Welfare State

Delegasi dari Taiwan Pelajari Sertifikat Produk Halal Indonesia

10 August 2017



Rombongan anggota parlemen dan pengusaha Taiwan mengunjungi Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MU) untuk meminta masukan mengenai sertifikasi halal.

Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menerima kunjungan anggota parlemen dan pengusaha Taiwan di Gedung MUI, Jalan Proklamasi Nomor 51, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/8/2017). Kedatangan rombongan tersebut untuk berdialog tentang sertifikat halal dari MUI. Rombongan anggota parlemen dan pengusaha Taiwan itu disambut oleh Ketua Bidang Luar Negeri, KH Muhyiddin Junaidi.

Saat berkunjungitu, anggota perlemen dari Taiwan, Yu Wan-Ju mengatakan, pihaknya ingin mengetahui lebih dalam lagi terkait budaya orang Indonesia. Pasalnya, tidak sedikit Muslim Indonesia yang berada di Taiwan dan selama ini interaksi antara budaya Taiwan dan Indonesia di sana sudah berjalan dengan baik.

Yu Wan-Ju berterima kasih kepada WNI yang telah banyak membantu orang Taiwan. Karena itu, pemerintah Taiwan ingin berusaha membantu WNI yang bekerja di Taiwan. “Jadi, pemerintah Taiwan sedang berusaha membantu masyarakat Indonesia di sana yang kebanyakan muslim. Kita ingin memperbaiki lingkungannya dan semua aspek kehidupannya,” ujar Yu Wan-Ju.

Menurutnya, saat ini di Taiwan, sudah ada 55 hotel dan 88 restoran yang sudah bersertifikat halal, sehingga bisa melayani kebutuhan umat Islam yang berada di sana. Selain itu, pemerintah Taiwan juga menyediakan tempat ibadah bagi umat Islam.

Yu Wan-Ju lalu menegaskan, saat ini, Taiwan ingin bersinergi lagi dengan Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar se-Asia Tenggara dengan cara memasarkan produk halal Taiwan ke Indonesia. Namun, saat pengusaha Taiwan ingin memasarkan produknya halalnya ke Indonesia, mereka menemukan kendala. Pasalnya, sertifikat halal Taiwan berbeda dengan sertifikat halal dari MUI, sehingga ditolak di Indonesia,” jelas Yu Wan-Ju.

Karena itu, pihaknya meminta petunjuk kepada MUI untuk mendapatkan sertifikat halal tersebut. Sebelumnya, menurut Ju, pemerintah Taiwan juga sudah pernah mengundang Ketua LPPOM MUI, Lukmanul Hakim ke Taiwan untuk membahas terkait produk halal. “Jadi kami ingin punya sertifikat yang berlaku untuk seluruh Indonesia lebih baik lagi kedepannya,” ujar anggota Komisi Keuangan DPR Taiwan ini.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua MUI Bidang Hubungan Luar Negeri, Muhyiddin Jubaidi mengatakan, LPPOM sebagai lembaga resmi MUI memang bertugas untuk melakukan soaialisasi produk halal. Karena itu, kata dia, MUI mempersilakan siapapun yang ingin mendapatkan sertifikat halal.

“Jadi, siapa saja yang ingin mendapatkan halal label kita welcome, walaupun perusahaan-perusahaan non muslim selama mereka mengikuti prosedur standar kami,” ujar Muhyiddin.

Disampaikan Muhyiddin, ke depannya parlemen Taiwan akan mengundang pimpinan MUI untuk mengikuti acara internasional di Ibu Kota Taiwan, Taipei yang akan membahas terkait produk halal. “Sekarang halal kan sangat seksi. Kalau tidak salah, halal bisnis kurang lebih 240 juta dolar Amerika Serikat (AS) potensialnya, tapi belum bisa kita manfaatkan,” ucap Muhyiddin.

Muhyiddin mengatakan, pengusaha yang menggeluti bisnis halal sebenarnya sangat berpotensi untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Karena, penduduk Muslim di dunia saat ini mencapai 1,8 miliar dan tentunya ingin mengonsumsi produk halal.

Dalam pertemuan itu, dikatakan Muhyiddin, perlemen dan pengusaha Taiwan hanya ingin mengetahui prosedur untuk mendapatkan sertifikat halal MUI saja.”Mereka hanya bertanya SOP-nya gimana. Karena di Taiwan ada 300 ribu orang Indonesia bekerja. Di Taiwan juga ada masyarakat Taiwan asli yang Muslim,” demikian pungkas Muhyiddin.

The post Delegasi dari Taiwan Pelajari Sertifikat Produk Halal Indonesia appeared first on Ekonomi Syariah.