Ummah

Islam di Negeri Tibet

19 August 2017



Tibet adalah daerah dataran tinggi yang berada di timur laut Himalaya. Wilayah yang hari ini berada di bawah Pemerintahan Republik Rakyat Cina itu merupakan tanah air masyarakat Tibet serta beberapa kelompok etnis lainnya, seperti Monpas, Qiang, dan Lobus.

Di samping itu, daerah tersebut sekarang ini juga dihuni oleh sejumlah besar orang dari suku Han dan Hui. Yang menarik, Tibet diklaim sebagai negeri berpenghuni dengan lokasi tertinggi di bumi yang ketinggian rata-rata tanahnya mencapai 4.900 meter di atas permukaan laut (dpl).

Menurut sensus 2010, jumlah penduduk Tibet mencapai tiga juta jiwa. Mayoritas dari mereka adalah penganut agama Buddha. Kendati demikian, terdapat pula sejumlah kecil masyarakat Muslim yang mendiami negeri tersebut secara turun-temurun. Menurut satu laporan, jumlah mereka diperkirakan tidak kurang dari 23 ribu jiwa.

Beberapa catatan mengungkap, umat Islam telah tinggal di Tibet sejak abad kedelapan atau kesembilan Masehi silam. Ketika Umar bin Abdul Aziz memegang tampuk pemerintahan Dinasti Umayyah pada 717-720, para delegasi dari Tibet dan Cina pernah meminta sang khalifah untuk mengirim juru dakwah Islam ke negeri mereka. Pada waktu itu, Umar memenuhi permintaan tersebut dengan mengirimkan Salah bin Abdullah Hanafi ke Tibet.

Setelah runtuhnya Dinasti Umayyah di Damaskus, penguasa Abbasiyah di Baghdad tetap memelihara hubungan baik dengan negeri Tibet antara abad kedelapan dan kesembilan. Pada masa itu, tidak sedikit pula kaum Muslimin yang memutuskan untuk menetap di Tibet dan menikahi perempuan lokal.

Di beberapa kota di Tibet, terdapat komunitas kecil Muslim yang dikenal dengan sebutan Kache. Jika dilacak dari sejarah asal-usulnya, nenek moyang mereka berkemungkinan besar adalah kaum imigran yang datang dari tiga kawasan utama, yakni Kashmir (Kache Yul di Tibet kuno), Ladakh, dan negara-negara rumpun Turki di Asia Tengah.

Hak-Hak Istimewa Muslim Tibet

Dikatakan, imigran Muslim dari Kashmir dan Ladakh pertama kali memasuki wilayah Tibet sekitar abad ke-12. “Meskipun tidak banyak penduduk Buddha yang beralih ke Islam pada masa itu, secara bertahap pernikahan dan interaksi sosial menyebabkan meningkatnya populasi Muslim hingga jumlah yang cukup signfikan di sekitar ibu kota Tibet, Lhasa,” tulis Masood Butt dalam artikel “The Tragedy of Tibetan Muslims” yang dipublikasikan oleh Tibetan Bulletin.

Selain Kache, beberapa kelompok etnis Muslim yang juga menghuni tanah Tibet sejak lama, di antaranya, suku Hui, Salar, Dongxiang, dan Bonan. Di samping itu, ada lagi komunitas Tionghoa Muslim Gya Kache yang jejak keturunannya masih terhubung dengan kelompok etnis Hui.

Kedatangan Muslim di Tibet juga diikuti oleh pembangunan masjid di berbagai kawasan di negeri itu. Ada empat masjid di Lhasa, dua di Shigatse, dan satu di Tsethang. “Permukiman Muslim Tibet umumnya terkonsentrasi di sekitar masjid yang mereka bangun tersebut,” tutur Butt.

Meski hanya minoritas, Muslim Tibet menjalani kehidupan yang cukup bebas di lingkungan Buddha. Bahkan, ketika negeri itu berada di bawah kepemimpinan Dalai Lama V (yang hidup antara 1617-1682), umat Islam juga menerima sejumlah hak istimewa.

Di antaranya, kaum Muslim Tibet diizinkan untuk menyelesaikan berbagai urusan mereka secara independen dan sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, kaum Muslim Tibet juga bebas mendirikan perusahaan dan menjalankan bisnis yang mereka geluti. Tak hanya itu, mereka juga dibebaskan dari pungutan pajak.

Hak-hak istimewa di atas termaktub dalam dokumen yang diberikan Pemerintah Tibet kepada masyarakat Muslim. “Sayangnya, setelah rezim komunis Cina menduduki Tibet pada 1959, umat Muslim di negeri itu tak lagi menikmati hak-hak tersebut,” ungkap Butt. (Republika)