Sains & Teknologi

BPPT – SAAB Swedia Teken MoU Rekayasa Teknologi Wahana Bawah Air

31 August 2017



Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama SAAB Swedia dan Universitas Pertahanan serta menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait kaji terap teknologi pertahanan dalam rangka menuju kemandirian pertahanan dan keamanan di Indonesia.

Dikatakan Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR BPPT) Wahyu Widodo Pandoe bahwa kerjasama ini akan difokuskan pada Desain Wahana Bawah Air.

“Sebagai negara maritim Indonesia harus menguasai teknologi pertahanan bawah laut. Kerjasama ini kita targetkan kedepan, Indonesia bisa mempunyai purwarupa (prototipe) kapal selam mini,” kata Wahyu saat memberikan sambutan acara Seminar BPPT- SAAB “Meraih Pertahanan yang Tangguh Melalui Teknologi Pertahanan Bawah Air di Kantor BPPT, Jakarta (29/8).

Disampaikan Wahyu bahwa desain kapal selam ini akan diarahkan hingga kita bisa menguasai teknologinya dari kapal selam awal, menengah hingga besar.

“Ada tahapan yang masih perlu dikuasai Indonesia. Oleh karena itu berbagai peluang kerja sama dijajaki dalam transfer teknologi untuk meningkatkan penguasaan teknologi. Penguasaan teknologi kapal selam melibatkan banyak cabang keilmuan seperti desain kapal, mesin (engine), baling-baling, dan persenjataan,” rincinya.

Kunci utama keberhasilan program kapal selam selain penguasaan teknologi, disebut Wahyu adalah adanya komitmen dan sinergi antar pemangku kebijakan dan institusi terkait.

Kapal Selam Karya Anak Bangsa

Pada kesempatan yang sama, Senior Engineer Pusat Teknologi Industri Pertahanan dan Keamanan BPPT Mohamad Dahsyat mengungkap bahwa kedepan Indonesia akan memiliki purwarupa kapal selam mini dengan panjang 30-32 meter, mampu berada di kedalaman 150 meter, diawaki 11-12 orang dan bertahan 2-3 hari di dalam air.

“Teknologi bawah air kompleks. Bagaimana bisa berlama-lama di air. Kapal bisa layaknya siluman, mampu mendeteksi berbagai ancaman dan orang yang di dalam kapal selam mampu bertahan lama, sehat, dan nyaman,” paparnya.

Saat ini sejumlah negara yang sudah menguasai kapal selam antara lain Rusia, Amerika Serikat, Tiongkok, Prancis, Swedia, Jepang, dan Korea Selatan.

Sementara Vice President Head of SAAB Indonesia, Anders Dahl mengatakan, Indonesia memiliki kesamaan dengan Swedia yang memiliki banyak pulau. Untuk itulah sangat penting bagi SAAB memberikan transfer pengetahuan dan teknologi.

“Kami sudah menguasai teknologi bawah laut hingga pesawat tempur,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, perusahaan pertahanan dan keamanan SAAB kembali mengukuhkan komitmen jangka panjangnya untuk Indonesia melalui perpanjangan kemitraan dengan BPPT.

Sebagai informasi beberapa kerjasama bidang teknologi Hankam sudah digagas SAAB dan BPPT antara lain informasi geospasial, peluru kendali, ancaman perang elektronika (electronic warfare), dan kali ini teknologi pertahanan bawah air.