Hankam

BPPT Gandeng SAAB Swedia Gelar Seminar Teknologi Peluru Kendali

20 September 2016



Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerjasama dengan SAAB Swedia, adakan seminar dan diskusi “Achieving Air Defence Superiority Through The Latest Missile and Sensor Technology” di Kantor BPPT, Jakarta, (15/9). Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR-BPPT), Erzi A. Gani dalam pidatonya mengatakan bahwa alat utama sistem pertahanan (Alutsista), yakni seluruh kebutuhan peluru kendali yang digunakan Indonesia masih impor dari asing.

“Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki industri pembuatan peluru kendali sendiri, sehingga seluruh kebutuhan peluru kendali yang digunakan masih diimpor. Dengan demikian, industri peluru kendali adalah industri pendukung alutsista yang sangat vital dan strategis,” tegas Erzi.

Teknologi peluru kendali, sebut Erzi meliputi sistem komunikasi, kendali, struktur, propulsi, target aquisition, hulu ledak (warhead) dan lainnya.  Mirisnya, hingga kini komponen tersebut, hampir seluruhnya masih tergantung dari luar negeri.  Padahal kata Erzi, ketergantungan yang sangat tinggi tersebut sangat tidak menguntungkan, karena sewaktu-waktu bisa berubah mengikuti situasi dan kehendak dari negara pengekspor alutsista.

“Kemandirian Indonesia terhadap Alutsista harus bisa diwujudkan. Ketergantungan pada impor bahan munisi dan rudal, dalam jangka panjang akan menimbulkan permasalahan dan rawan dikendalikan oleh pihak luar, seperti halnya embargo. Hal ini perlu diperhatikan,” ungkap Erzi.

Menuju rancang bangun rudal jelas Erzi, memerlukan penguasaan teknologi yang bersifat multi disiplin dengan tingkat kompetensi yang tinggi (very high skill). Sejalan dengan rencana pemerintah melakukan pengadaan rudal, perlu dilakukan sinergi antara proses ToT dengan pengembangan teknologi.  “Beberapa teknologi kunci dalam pengembangan rudal yang akan dilakukan oleh BPPT yaitu meliputi teknologi sistem kendali terbang, sistem target aquisition, serta sistem struktur rudal ke depan. BPPT juga akan mengembangkan laboratorium berstandar militer yang ditujukan sebagai sarana uji dan sertifikasi dalam menunjang program prioritas rudal serta standar mutu produk Hankam” paparnya.

Lebih lanjut Erzi menuturkan bahwa BPPT memiliki kompetensi untuk mendukung terlaksananya rancang bangun rudal. Diungkap Erzi, BPPT memiliki fasilitas laboratorium pengujian yang lengkap, mulai aerodinamika, struktur, material, mesin propulsi, komunikasi, elektronika, komputasi, desain dan manufaktur. Berbekal fasilitas itupun Erzi lantas mengharap tercipta sinergi antar lembaga, dalam pengembangan rudal di Indonesia. “Diharapkan dengan sinergi antar lembaga kita dapat mewujudkan pengembangan rudal di dalam negeri,” pungkas Erzi.

Sebagai informasi BPPT telah lama menjalin kerjasama alih teknologi maju produk industri Hankam dengan SAAB Swedia, perusahaan penyedia produk, jasa dan solusi terkait pertahanan militer maupun keamanan sipil. Oleh karena itu, seminar kali ini juga ditujukan untuk menjalin kerjasama menuju kemandirian Hankam di Indonesia. Acara ini juga dihadiri oleh Dirjen Potensi Pertahanan, Kedutaan Besar Swedia, SAAB, PT Pindad, Kemenristekdikti, BPPT, LAPAN, TNI AD, serta PT DI. (BPPT News)