Ummah

Muslim Indonesia di Inggris Bahas Tentang Aset Umat: Waqaf dan Tanah Adat

20 April 2017



Birmingham (Majalah GRAK) – Muslim Indonesia di Britania Raya sukses menyelenggarakan KIBAR Spring Gathering (KSG 2017) pada hari sabtu lalu (15/4) dengan jumlah peserta yang hadir mencapai 460 orang, menjadikan gathering ini sebagai gathering diaspora Indonesia terbesar di Inggris Raya selama ini, dihadiri oleh peserta yang berasal dari 19 kota di Inggris Raya, dengan peserta terjauh berasal dari Aberdeen, dan juga dari luar UK, yakni dari Ireland.

Gathering Muslim Indonesia kali ini diadakan di Birmingham dengan tema “Managing Our Ummah Asset” (mengelola aset umat), dengan pembicara tamu dari Indonesia adalah Dr Eddy Iskandar yang merupakan praktisi dari Bank Waqaf Internasional juga merupakan alumni KIBAR UK pada tahun 1992. Beliau memberikan paparan dan workshop bagaimana cara merubah perspektif, mengenal potensial waqaf dan change management.

Dalam gathering ini juga dipaparkan penjelasan tentang Waqaf oleh saudara Ebi Junaidi dari Masyarakat Ekonomi Syariah (MES UK) yang juga merupakan mahasiswa doktoral program Ekonomi dari University of Durham, juga dipaparkan penjelasan mengenai Tanah Adat oleh saudara Zaid P Nasution dari Lingkar Studi Cendekia (LSC) yang juga merupakan mahasiswa doktoral program Desentralisasi dan Tata Kelola Lingkungan dari University of Leeds

Gathering ini dibuka oleh sambutan oleh para diaspora yang sudah tinggal cukup lama di Inggris, yakni bapak Moemoeh Dwimunali yang bekerja pada perusahaan Airbus yang bermukim di kota Bristol, dan juga bapak Iswandaru Widyatmoko yang bekerja pada perusahaan AECOM bermukim di kota Nottingham.

Saudara Arif Abdullah (Ketua KIBAR) yang juga menjadi koordinator pelaksana memaparkan bahwa Muslim Indonesia saatnya bangun dari tidur panjangnya, menyadari bahwa selama ini kita terlena dengan kemegahan ibukota dan pembangunan tersentralisasi sehingga lupa untuk mengelola aset-aset umat yang disekitarnya, seperti tanah wakaf, masjid, pesantren, pasar kampung, dan lain sebagainya, dan berharap semoga dengan dorongan mengelola aset umat juga menjadi kontribusi besar dalam pembangunan Indonesia.

Gathering ini diharapkan juga menjadi momentum untuk diangkatnya kembali secara masif dan terstruktur isu Wakaf secara nasional, baik oleh masyarakat, ulama dan pemimpin masyarakat, akademisi juga oleh pemerintah baik pusat maupun daerah.

Di perhelatannya yang sudah berumur 28 tahun, KIBAR Gathering menjadi tempat berkumpul diaspora Indonesia setiap dua kali dalam setahun, gathering ini juga bertambah menarik dengan adanya “mabit”atau menginap malam sebelum dan malam sesudah acara yang menjadi sarana berinteraksi dan mengenal secara dekatpeserta satu sama lain, dan juga diwarnai oleh kultum singkat dari peserta secara bergiliran.

Selain materi utama, gathering ini juga mengadakan sesi untuk muslimah, remaja dan anak-anak. Anak-anak dihiasi dengan kegiatan mewarnai dan belajar pencak silat. Kegiatan remaja diisi dengan science project dan juga aktifitas outbond.

Dalam gathering ini juga diluncurkan penggalangan untuk Masjid Indonesia di London dan juga start-up oleh mahasiswa Indonesia bernama Muslim Experience.

“Dengan jumlah peserta yang besar ini, dan hidangan makanan tanah air yang disiapkan secara bergotong royong oleh Ibu-ibu dari lokaliti sekitar, menjadikan gathering ini terlalu sayang untuk dilewatkan, insyaallah berjumpa di gathering berikutnya” tutur Abdul Rauf, yang merupakan kordinator lokal Pengajian di kota Birmingham.(KIBAR UK)