Kolom

Khalifah Demokrasi

26 April 2017



Arif Abdullah A Business & Industrial Consultant | Birmingham, UK

Ketika Ottoman jatuh, tidak terhitung berapa kali umat Islam mencoba bermusyawarah baik perorangan, hingga kelompok, ormas ataupun dalam hitungan negara, pun hingga kini.

Menyesuaikan dengan tren, para mamluk (kerajaan) pun menyesuaikan dalam bentuk negara yang sistem didalamnya masih berupa kerajaan, beberapa menjadi pseudo nation dengan penyesuaian kelembagaan oleh perdana mentri.

Pagar batas disepakati, dan juga shifting perubahan ini dimanfaatkan beberapa pihak untuk mengakui tanah-tanah yang pada dasarnya merdeka, beberapa berhasil dan mendapatkan perlawanan tapi banyak yang justru mendapatkan kedaulatannya di tanah bapak-bapaknya hidup, merdeka 100%.

Ketika Turki dirumuskan, pemisahan agama dan politik disesuaikan oleh Attaturk, tetapi terjadi ghuluw, agama dipandang sebagai sesuatu yang jumud pencegah kemajuan, tindakan represif diberlakukan, agama bersembunyi di keberdayaan yang paling lemah, didalam hati manusia.

Yang menarik, Indonesia negara berdaulat yang mengangkat demokrasi pancasila dengan meletakkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama, bahkan Bung Besar Soekarno mengatakan dalam sidang PBB, kami adalah bangsa demokrasi yang mengakui agama sebagai pilar bangsa dan negara, satu-satu nya negara demokrasi di dunia.

Konsep ini diperjuangkan dalam persaingan global, hingga kini, jika kita sadar.

Disatu pemusyawaratan umat, dimajukanlah Indonesia dalam ghazful fikri, dihadapkanlah peer to peer, Attaturk dengan Natsir, yang satu demokrasi sekuler dan yang satu demokrasi pancasila dengan agama sebagai pilar.

Tampaknya sejarah pun hingga kini masih dalam rangka menuliskan yang mana yang akan bertahan.

Maka pantas Indonesia hampir selalu digadang-gadang sebagai harapan dari timur.

Jadi, masihkah kita berbicara khalifah tanpa demokrasi dengan nation state yang bernama Indonesia?

Jika iya, lihat sekitar, bangun, yakinkan 500 lebih dewan parlemen untuk ke arah itu karena itu cara yang paling baik, dibandingkan revolusi yang akan meminta korban dan kemudharatan.

Jika tidak, maka mari bersama-sama kita sempurnakan yang ada menuju yang mashalah dalam kacamata Islam, rahmatan lil alamin.