Kolom

Kolaborasi Personality Strength Soekarno-Hatta

14 February 2017



Anjar Ramdhana Anjar Ramdhana Coach di Personality Strength Community

Soekarno-Hatta, dua nama yang berjasa besar bagi Bangsa ini. Keduanya adalah pejuang kemerdekaan yang juga sebagai proklamator kemerderkaan Republik Indonesia. Soekarno-Hatta, dua nama ini diabadikan dalam teks proklamasi kemerdekaan yang mengatasnamakan Bangsa Indonesia ketika itu.

Romansa Perjalanan Dua Sahabat Perjuangan
———————————————————–

Perjalanan dua orang sahabat ini dalam memperjuangkan kemerdekaan dimulai pada tahun 1920-an, dimana keduanya sudah saling kenal walaupun belum pernah bertatap muka. Soekarno yang masih kuliah di Bandung dan Hatta yang kuliah di negeri Belanda ketika itu sudah saling mengangumi kiprah dan pemikiran masing-masing. Hingga pada tahun 1930an keduanya bertemu secara langsung untuk pertama kali dan menemukan adanya perbedaan pandangan di antara keduanya dalam hal sikap terhadap pemerintahan Hindia-Belanda yang menjajah Indonesia ketika itu.

Soekarno meskipun menganut paham non-kooperatif, tidak ingin memasang sikap bermusahan dengan Pemerintah Hindia-Belanda. Sikap seperti ini dimaksudkan Soekarno agar tokoh-tokoh pergerakan bangsa ketika itu tidak terus menerus disiksa dan dipenjara oleh pemerintah, sehingga dapat dekat dengan rakyat untuk terus menyemangati rakyat. Hatta tidak menyetujui sikap Soekarno yang seperti itu, Hatta menilai Soekarno menunjukkan sikap inkonseistensi dengan perlawanan yang ditujukan kepada pemerintah Hindia-Belanda, sehingga memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk memanfaatkan pergerakan-pergerakan yang ada ketika itu.

Perbedaan sikap dan pandangan keduanya yang awalnya saling mengagumi seringkali meruncing, namun dapat diredam oleh kawan-kawan seperjuangan ketika itu. Bahkan antara keduanya sepakat akan kelebihan masing-masing yang dapat digunakan untuk membantu perjuangan kemerdekaan, seperti yang dikemukakan oleh keduanya berikut ini :
“Jelas, kekuatan Bung adalah menggerakkan massa. Jadi, Bung harus bekerja secara terang-terangan.”
“Betul. Dan Bung Hatta mendampingin Saya. Bung Hatta terlalu terkenal untuk bekerja di bawah tanah”
(Mohammad Hatta dan Soekarno)

Kerjasama antara dua Sahabat yang berbeda pandagan ini terus terjalin. Di tengah perbedaan pendapat yang muncuk di antara mereka, kedua Sahabat ini terus saling mengisi dan mendukung hingga puncaknya ketika menjelang hari proklamasi kemerdekaan. Generasi muda yang ketika itu mendesak Soekarno untuk memproklamirkan kemerdekaan tak mampu membuat Soekarno bergeming. Soekarno bersikeras menjalani momentum ini bersama Sahabatnya, Hatta. Soekarno dan Hatta, menjadi perumus utama dari naskah teks proklamasi yang dibuat di rumah Laksamana Meida.

Esok harinya, Jumat 17 Agustus 1945 dalam situasi yang sangat genting di rumah Soekarno, ketika naskah proklamasi akan dibacakan, terdengar kabar bahwa Pemerintah Jepang mengetahui rencana proklamasi tersebut dan berniat mengirimkan tentaranya untuk membatalkannya. Para tokoh yang ada di rumah Soekarno pagi itu mendesak Soekarno untuk segera membacakan naskah proklamasi sebelum tentara Jepang datang dan membatalkannya. Soekarno tetap bersikeras menunggu Sahabatnya, Hatta, datang. Ia ingin Hatta mendampinginya ketika membacakan naskah proklamasi yang menentukan perjalanan bangsa besar yang sangat dicintainya, Bangsa Indonesia. Setelah Hatta datang, barulah Soekarno mengenakan baju kebesarannya dan menuju podium untuk membacakan naskah proklamasi. Sejak itulah kedua nama Sahabat ini tercatat sebagai founding father, Bapak Bangsa.

Setelah Bangsa Indonesia merdeka dan memasuki masa membentuk pemerintahan, kedua Sahabat ini kembali menunjukkan sikap yang bertentangan tentang bagaimana sistem pemerintahan akan dijalankan. Hatta berpendapat sistem yang harus dijalankan oleh pemerintah Republik Indonesia adalah sistem demokrasi kerakyatan, dimana setiap pendapat yang ada di masyarakat ditampung dan diolah melalui cara musyawarah, cara yang sudah menjadi tradisi dalam masyarakat Indonesia selama ini. Soekarno punya pandangan yang berbeda, Soekarno berpendapat sistem pemerintahan yang sesuai dengan Bangsa Indonesia adalah sistem pemerintahan yang mampu menyatukan segala perbedaan dan segala pandangan yang ada di masyarakat di bawah satu kepemimpinan yang kuat, yang dikenal dengan demokrasi terpimpin. Hatta menyikapi keputusan Soekarno yang menjadi Presiden ketika itu dengan keluar dari pemerintahan yang dipimpin oleh Sahabatnya tersebut.

Di luar pemerintahan, Hatta terus melancarkan kritik kepada Sahabatnya yang notabene adalah Presiden Republik Indonesia ketika itu. Kritik-kritik ini dilancarkan oleh Hatta dalam berbagai kesempatan dan melalui berbagai surat kabar. Soekarno menanggapi berbagai kritik Hatta dengan sikap yang lebih menghargai, Ia menawarkan kepada Hatta untuk bertemu dan menjelaskan maksud dari berbagai kritik yang ditujukan kepadanya. Meski terkesan berlawanan, hubungan persahabatan antara keduanya tidak pernah luntur, salah satu buktinya adalah Soekarno meminta Hatta untuk menjadi saksi pernikahan anaknya Guntur, dan Hatta mengabulkan permintaan Sahabatnya tersebut.
Waktu berjalan dinamika politik berkembang, ketika Soekarno berkuasa, Hatta memilih untuk berada di luar lingkaran kekuasaan dengan terus memberikan kritik kepada Sahabatnya dalam menjalankan kekuasaannya. Ketika kekuasaan Soekarno mulai pudar dan berganti dengan masa kekuasaan Soeharto, Soekarno jatuh sakit dan kondisi kesehatannya makin hari makin menurun. Soekarno mengalami kondisi yang sangat berbeda dengan ketika Ia berkuasa.

Hingga suatu hari sakit yang dialami Soekarno makin parah dan Ia beberapa kali tidak sadarkan diri.
Hatta diizinkan untuk menjenguk Soekarno di RSPAD. Melihat kondisi Sahabatnya yang sangat memprihatinkan, Hatta bersedih. Namun Hatta tidak ingin menambah berat beban Sahabatnya, Hatta memasang wajah tersenyum ketika menyapa Sahabatnya yang kebetulan terbangun. “Oo Hatta, kau ada di sini..” ujar Soekarno perlahan. Hatta yang sangat sedih dengan kondisi Sahabatnya itu menjawab dengan sedikit senyum untuk menghibur sahabatnya itu, “Ya, bagaimana keadaanmu, No ?” sambil menggenggam tangan Soekarno. Soekarno balik bertanya “Hoe gaat het met jou (bagaimana keadaaanmu) ?”. Setelah itu kedua Sahabat ini tidak mampu berkata-kata lagi, keduanya menangis hingga Soekarno kembali memejamkan mata. Dua hari kemudian, Soekarno wafat, dua Sahabat perjuangan yang namanya tercatat dalam tinta emas perjuangan kemerdekaan Indonesia berpisah untuk selama-lamamanya.

Mengurai Kekuatan Kepribadian Dwitunggal Soekarno-Hatta
—————————————————————————-
Setiap kepribadian memiliki titik kekuatan (strength) masing-masing. Ketika ada dua kepribadian yang bertemu, berinteraksi dan berkolaborasi, maka seseungguhnya yang terjadi adalah pertemuan, interaksi dan kolaborasi dari dua jenis kekuatan kepribadian (personalities strength). Kolaborasi antar kekuatan kepribadian dapat terjadi pada dua atau lebih kepribadian. Dua kekuatan kepribadian yang berinterakasi dan berkolaborasi akan melahirkan duet maut yang mampu menjawab berbagai permasalahan dengan efektif. Lebih dari dua kekuatan kepribadian yang berinteraksi dan berkolaborasi akan menghasilkan tim yang tangguh dan penuh kreativitas.

Apa yang terjadi pada Soekarno dan Hatta adalah pertemuan dua sosok yang memiliki masing-masing kekuatan kepribadian kemudian berkolaborasi menghasilkan duet maut atau yang biasa dijuluki dengan dwitunggal. Kekuatan kepribadian Soekarno ada pada kemampuannya memahami, mengolah dan menyebarkan apa yang dirasakan oleh rakyat ketika itu. Ia juga mampu untuk membentuk visi Indonesia merdeka dan sangat yakin dengan visinya tersebut. Dua kekuatan kepribadian Soekarno ini menjadikannya sosok yang mensintesakan harapan rakyat dengan visi pribadinya, tidak heran Ia mendapat julukan sebagai Sang Penyambung Lidah Rakyat. Di sisi lain, Hatta memiliki kekuatan kepribadian yang terletak pada pemikirannya. Kemampuannya untuk memahami berbagai konsep pemikiran dan menjadikannya frame berpikir terhadap permasalahan yang dihadapi rakyat ketika itu membuahkan berbagai ide-ide kongkrit dan solutif untuk mempercepat pencapaian kemerdekaan Indonesia. Keterbukaan Hatta terhadap berbagai pandangan dan pemikiran dari berbagai macam kelompok dan latar belakang menjadikannya mampu untuk menangkap tindakan yang paling terbaik untuk semua pihak pada suatu situasi.

Soekarno yang simpatik dan visioner bertemu dengan Hatta yang objektif dan akomodatif. Kedua tokoh ini mengetahui bahwa keduanya saling membutuhkan. Gelora semangat Soekarno dan visinya yang jauh ke depan memerlukan formulasi implementasi yang jelas dan diterima oleh berbagai kalangan, inilah yang diperolehnya dari Soekarno. Sedangkan berbagai pemikiran Hatta dan kepekaannya untuk memenuhi kebutuhan berbagai kalangan memerlukan sosok yang mampu menggerakkan emosi massa dan memiliki kepemimpinan yang kuat, sosok inilah yang ditemukan Hatta pada Soekarno. Dalam konteks memperjuangkan kemerdekaan, pertemuan kedua sosok ini sangat pas untuk menghasilkan gerakan perjuangan yang penuh semangat, dipercaya rakyat, memiliki dasar pemikiran yang kuat dan mengakomodir berbagai perbedaan yang ada. Inilah keunggulan yang dimiliki oleh dwitunggal Soekarno-Hatta.

Dalam perspektif proses-proses kognitif, kolaborasi Soekarno dan Hatta menghimpun 4 (empat) proses kognitif yaitu Extraverted Feeling (Fe) dan Introveted Intuition (Ni) yang ada pada diri Soekarno, bertemu dengan proses kognitif Introverted Thinking (Ti) dan Extraverted Intuition (Ne) yang ada pada diri Hatta. Fe adalah proses kognitif melibatkan hasrat untuk terhubungan dengan orang lain yang ditunjukkan melalui ekspresi kehangatan dan keterbukaan diri. Ni melibatkan proses sintesis dari hal yang sifatnya paradoks atau kontradiktif dan membawanya ke level yang lebih tinggi. Ti digunakan dalam pemecahan masalah, analisis dan mengembangkan ide. Ne digunakan untuk mengetahui makna tersembunyi dan menginterpretasikannya, sering menghasilkan berbagai interpretasi dari satu ide atau menginterpretasikan maksud di balik perilaku seseorang.

Dengan memahami perbedaan kepribadian antara Soekarno dan Hatta, maka perbedaan pendapat antara keduanya yang terjadi dari sebelum masa kemerdekaan hingga setelah masa kemerdekan adalah suatu hal yang wajar. Ini terjadi terutama ketika keduanya tidak diikatkan oleh tujuan yang sama dan ketika mengambil keputusan dengan pola pikir masing-masing tanpa melibatkan yang lain. Namun setajam apapun perbedaan pendapat antara kedua Sahabat ini, keduanya tetap saling menghargai satu sama lain, menghargai keputusan satu sama lain dan tetap ada untuk satu sama lain di saat dibutuhkan.
Bagaimana dengan Anda, apakah Anda sudah menemukan teman seperjuangan atau mitra kerja yang dapat berkolaborasi dengan Anda ?. Sekian.

Semoga Bermanfaat.
Anjar Ramdhana, S.Psi
Personality Strength Coach

Sumber bacaan :
Buku Sukarno Hatta Bukan Proklamator Paksaan, Penulis : Walentina Waluyanti De Jonge
Buku Biografi Politik Mohammad Hatta, Penulis : Deliar Noer
http://www.cognitiveprocesses.com