Kolom

Mimpi Siti Hajar

20 February 2017



Itta Raisah Fitriyani Mahasiswa di Al-Azhar Al-Syarif, Kairo

————-

“Apa kabar, Sayang?”
“Sedang apa?”
“Kau sedang tersenyum melihat bunda berjalan sendiri, ya? Bunda lucu ya dengan ransel, berjalan cepat, otak bunda mengembara entah sampai ke mana.”

————

“Nak, bunda sedang di masjid Azhar. Bunda melihat anak kecil dengan gaya masih kekanak-kanakannya, merdu sekali melantunkan Al-quran. Nanti semoga Allah anugerahkan Kau suara yang indah ya”

————-

“Beruntungnya mereka. Sejak bayi lahir di tanah ilmu. Sejak kecil yang didengar adalah kalam-kalam ilmu dan hikmah dari para masyaikh. Semoga kelak Kau tumbuh di lingkungan yang baik ya, Nak…”

Mesir, 2016

****

Indonesia, 2014

“Ma, dulu seusiaku bagaimana cara mama menjaga diri?”

“Sayang, mama mendidikmu sejak sekian tahun sebelum kamu ada”

“Maksudnya, Ma?”

“Ya, sejak mama masih SMA, sedikit demi sedikit mama kumpulkan untuk kelak mama menjadi seorang Ibu. Mama dulu selalu berpikir, ‘nanti anakku mau kuarahkan ke mana? Bagaimana cara aku menerima amanah nanti? Bagaimana kelak mengarahkannya pada Allah? Bagaimana nanti aku mendidik setiap nafasnya, setiap tapak kecilnya?’ ”

“Kenapa mama seperti itu?”

“Mama juga nggak tahu dari mana pikiran dan rasa itu muncul. Tapi tahukah? Itu yang membuat mama berusaha bertahan, Sayang””…”, menghembuskan nafas pelan.
“Perempuan adalah benih. Dari darahnya kelak tumbuh satu, dua, tiga, atau jumlah yang lebih banyak. Dari darah mama akan terserap saripati yang akan menetap menjadi daging bagi anak-anak mama. Rahim mama akan menjadi tempat tumbuhnya benih-benih suci itu. Maka sejak saat itu mama punya impian yang tinggi, Sayang. Mama bukan siapa-siapa. Mama nggak punya apa-apa. Dari kata pandai, mama terlalu jauh. Dari kata berilmu, mama tidak ada apa-apanya. Dari kata rupawan, mama tidak termasuk itu. Apalagi dari kata shalihah, mama terlalu malu mengucap kata itu, Nak. Tapi satu hal yang mama kuatkan dalam diri mama, apapun perjuangan mama pada Allah, mama yakin tidak akan ada yang terlewat. Mama punya banyak cita-cita. Mama ingin punya anak-anak yang mendunia, mama ingin punya anak-anak yang menjadi mata air dan penyejuk bagi umat. Mama ingin punya anak-anak yang memegang bendera agama Allah memperjuangkan agama Allah dalam taqwa, Nak. Mama tahu mama terlalu sulit untuk mencapai banyak harapan mama untuk mama sendiri. Maka sejak saat itu mama bertekad, mama bersimpuh malu di hadapan Allah setiap malam sejak mama awal dewasa, agar Allah izinkan mama hidup di dunia ini bisa berkhidmah untuk agama Allah. Jika tidak dengan mama langsung, maka mama ingin menjadi nahkoda yang mampu mengantar para ibrahim-ibrahimnya mama”

“Kenapa Ibrahim, Ma?”

“Ibrahim sosok yang taat kepada orang tua karena ketaatannya pada Allah”

“Lalu, Ma?”

“Mama berdoa dalam setiap shalat. Itu, Nak, salah satu alasan besar yang membuat mama berusaha untuk menjaga diri. Mama ikrarkan pada Allah, mama memohon bimbingan pada Allah. Mama ingin anak-anak mama lahir dari rahim yang suci, dari darah yang terjaga”

“….”, air mata menetes di pipiku.

“Tapi maafkan mama, Sayang. Mama masih jauh dari sosok Sayyidah Maryam, perempuan yang suci. Mama masih jauh dari baik.”

“Nggak, Ma. Aku nggak pernah menyesal sama sekali lahir dari rahim mama. Nanti aku kirim tulisan-tulisanku untuk mama tentang mama”

“Terima kasih, Sayang. Kamu tahu? Sejak mama muda dulu, mama selalu menghadirkan kamu di sebelah mama. Mama selalu merasa keberadaanmu di sebelah mama. Maka, kamu hadir di hati mama bukan sejak kamu ada di rahim mama, tapi jauh sekian tahun sebelum kamu ada dalam tubuh mama. Mama selalu membayangkan bisa memelukmu, menciummu, menyisir rambutmu, mengajarimu huruf demi huruf, kata demi kata”

“Terima kasih ya Ma…”, tak mampu berucap.

“Selamat melanjutkan perjuangan ya, Nak. Hadirkan calon anak-anakmu sejak saat ini, maka pasti kamu akan merasa rindu yang sangat”

“Iya, Ma. Aku juga sadar bahwa aku bukan siapa-siapa. Namun aku tetap yakin pada kuasa Allah. Allah pasti akan menghargai setiap perjuangan kan, Ma? Aku ingin seperti Siti Hajar, Ma. Beliau memang seorang budak, tapi dari rahim beliau lahir sosok-sosok suci pejuang agama Allah, dan dari rahim beliaulah turun-temurun hingga lahir Nabi junjungan kita, Nabi Muhammad shalallahualaihi wasallam.

Doakan aku ya, Ma…”

“Doa mama untukmu dan keturunan-keturunanmu, wahai calon bundanya keturunan mama”

* tulisan ini diikutsertakan dalam lomba yang diadakan Wihdah-ppmi Mesir