Kolom

Sehari di Lombok

06 March 2017



Jamaluddin Rosyidi Jamaluddin Rosyidi Pesantren Mus'ab Bin Umair - Kutai

* Catatan Perjalanan 24 Jam di Bumi Seribu Masjid

Tepat pukul 09.00 pesawat yang kutumpangi sampai di Lombok. Sesaat sebelum mendarat, dari jendela kulihat garis-garis pantai memanjang dengan eloknya. Gugusan bukit-bukit terpampang gagah namun seperti putri cantik yang melambai lambaikan tangannya.
Menara-menara masjid juga kubah-kubahnya tampak mencolok dilihat dari ketinggian.

Sesampainya di darat segera kukabarkan kedatanganku pada pak Soleh. Seminggu sebelumnya aku sudah menyampaikan rencana kedatangan ku padanya dan beliau bersenang hati menawarkan bantuannya untuk menjemputku. Aku akan menceritakan tentang pak Soleh lain waktu.

Wajahnya tampak ramah dan bersahaja, masih sama kuingat ketika terakhir kali kami bertemu sekitar lima tahun yang lalu. Setelah bersapa singkat, kami menuju ke tempat parkir. Surprise disana menungguku seorang yang juga amat berjasa dalam hidupku. Guru ngajiku, ustadz Ramli dan saudaranya ustadz Mustofa, keduanya seorang hafidz. Alhamdulillah bisa bersilaturahim setelah terakhir ketemu 4 tahun lalu sewaktu ia masih di Bontang.

Perjalanan dari bandara ke rumah Pak Soleh kami tempuh dalam waktu sekitar setengah jam. Sepanjang jalan, kulihat kota tampak bersih. Sesuai dengan julukannya, kota seribu masjid, berselang seling, di kiri-kanan tampak masjid – masjid baik yang sudah selesai di bangun maupun yang masih dalam proses. Sekitar jarak 200an meter sudah menunggu masjid berikutnya. Bahkan sepengamatan singkatnya di setiap lajur jalan, baik yang ramai maupun sepi ku jumpai “rumah Allah.”

Sampai di rumah pak soleh, kami langsung di sambut Fatan. Saya jadi teringat perbincangan dengan istri sewaktu mau berangkat ke Lombok tentang Fatan dan balon spongbob nya. Berikutnya tampak kakaknya Husna Hanana Wajihan yang juga menghambur keluar menyambut kami.

Rumah pak Soleh di kelilingi oleh sawah dan kebun. Letaknya di dusun apa lupa hehehe, tapi kecamatannya ingat, Batukliang, Lombok Tengah. Pagi dan sore hari di belakang rumah adalah spot terbaik untuk melihat hijaunya hamparan sawah. Rinjani pun akan tampak anggun menyapa dalam balutan kabut misterinya.

Bata-bata merah serta lantai rumah sama-sama belum selesai. Namun kehangatan dan keberkahan terasa dari rumah sederhana itu. Bilamana tidak, di dalamnya ada seorang hafidzoh,ustadzah husmayani, guru ngaji istri dulu. Juga dua orang yang ikut nyantri untuk menyelesaikan hafalan. Esoknya baru kutahu namanya, Aisyah dan hajar, keduanya sudah hafal 20 juz. Fatan dan Jihan yang kelas empat dan lima sekolah dasar pun sudah hafal 4 dan 11 juz. Luar biasa bukan? Apa yang kita lakukan seusianya?

Setelah menaruh tas di kamar yang sudah disediakan. Kami langsung berbincang bincang bertanya kabar melepas rindu. Di rumah itu ternyata hadir juga ustadzah Ratna, istri ustadz Ramli dan tentunya dengan kedua anaknya. Halwa yang ketika terakhir ketemu masih sering digendong, sekarang sudah mau masuk sekolah dasar. Dan hebatnya lagi sama dengan Jihan sudah hafal 11 Juz.

Selepas jumatan, seusai ngaji bersama dengan santri-santri TPA, saya dan pak Soleh bergegas untuk “turun” ke Lombok menuju rumah ustadz Sirojul Haq Q. Karena itulah alasan utamaku mengunjungi Lombok. Memenuhi undangan guru beliu. Ceritanya sekitar seminggu lalu, beliau bilang akan menikah dan saya “diharuskan” untuk datang. Sebagai seorang murid yang banyak berhutang ilmu, dan tentu saja berharap keridhoan beliau maka aku pun datang.

Ingin hati menyaksikan beliau mengucap janji. Melepas masa lajangnya dengan bahagia, setelah selama ini sering “diolok-olokin” murid-muridnya. Termasuk aku. Ketika kutanya, Jumat jam berapa akadnya, beliau bilang Jumat malam. Jadilah kupesan tiket Jumat pagi. Eh ternyata, yang dimaksud Jumat malam adalah malam Jumat.

Bayangkan wajah seorang yang sudah capek ditanya menikah, akhirnya setelah berikhtiar sekian lama, termasuk katanya penolakan lamaran sampai dua kali, dan dengan bermodal katanya juga hanya “lima juta rupiah” mampu menikah dengan pujaan hatinya. Ini membuktikan bahwa menikah itu tidak butuh biaya mahal.

Setelah berjamaah asar, dengan murid-muridnya, tiba-tiba saja ditodong untuk memberikan motivasi buat santri-santri beliau. Kebetulan beliau menerima santri tidak dengan memanfaatkan rumah saudaranya yang ditinggal merantau sebagai asrama. Santrinya yang muqim enam orang. Sementara sisanya adalah masyarakat sekitar yang ingin menghafal atau sekedar memperbagus bacaan Al-Quran. Kalau tahu Syaikh Muhammad Rasyid, begitulah nada-nada beliau ketika membaca Quran.

Sebelum bertolak pulang untuk meneruskan agenda yang disusun di rumah pak Soleh sebelumnya. Kami bersantap bersama. Plecing kangkung dan Ares , makanan khas Lombok menjadi menu istimewa kami sore itu. Istimewa nya lagi hidangan itu dimasak ibu beliau sendiri termasuk semalam sebagai sajian syukuran akad nikahnya. Meski terlambat, pun tidak membawa hadiah istimewa tetap dapat menikmati santap istimewanya. Nikmat bukan? Hehehehe

Sekitar 20an menit perjalanan. Ditengah kota. Tak jauh dari Islamic center. Menyusuri gang-gang yang sempit, kata pak Soleh malah gang tersempit di dunia, sampailah kami di rumah Pak Hasan. Beliau adalah mertua pak Soleh , ayahanda ustadz Ramli, ustadz Mustofa, ustadzah Husmayani dan tujuh orang lainnya yang semuanya hafal Alquran.

Beliau sedang duduk santai menikmati hisapan demi hisapan rokoknya ketika kami tiba. Senyum ramah menyambut kedatangan kami. Selepas pak Soleh memperkenalkanku, beliau mengajak kami masuk.

Pelajaran demi pelajaran, hikmah hidup dari rangkaian perjalanan hidupnya kudengarkan dengan seksama. Ternyata sudah sering beliau didatangi orang untuk mencari resep suksesnya mendidik kesepuluh anaknya menjadi hafidz dan hafidzoh. Insyallah dilain waktu aku ingin menulis tentang beliau dan menjadikannya sebuah buku.

Tentu banyak hal yang bisa kujadikan bekal hidup dari penuturan-penuturan beliau. Namun yang paling berkesan sore itu adalah beliau terisak ketika menuturkan doa rahasianya. “Ya Allah jika anak ku engkau takdir kan menjadi anak yang durhaka, maka matikan ia sebelum baligh. Tapi jika ia akan menjadi anak yang Soleh panjangkan usianya.” Akupun tersentak kaget dalam hati. Kok bisa-bisanya beliau dapat “ide” doa seperti itu. Seakan bisa membaca apa yang kupikirkan , beliau bilang bahwa “seakan-akan” doa itu diajarkan Allah langsung padanya. Tanpa ada siapapun yang mengajarkannya.

Menjelang Maghrib, sehabis foto bersama sebagai kenang-kenangan, saya dan pak Soleh menuju Masjid Islamic Center. Sekitar lima menit kami sudah sampai.

Selepas Maghrib, menyeberang ke Lombok barat. Agenda yang menunggu adalah memberi motivasi buat santri-santri pesantren As-Syatiri. Sebuah pesantren takhosus dari pesantren Aziziyah yang terkenal sebagai pesantren penghasil penghafal alquran terbesar di Lombok. Pesantren tempat ustadz Ramli dan Ustadz Musthofa mengabdikan diri mencetak generasi-generasi muda penghafal Alquran. Ceritanya ketika di tempat pak Soleh,saat ngobrol-ngobrol santai, ustadz Ramli ingin agar santri-santrinya memiliki wawasan lain tenang profesi yang bisa diambil seorang penghafal Alquran , selain sebagai ustadz atau guru agama tentunya.

Usai mengatur shaf santrinya, sesuai dengan capaian prestasi hafalannya. Beliau memperkenalkan saya. Wuihb betapa malunya, sekaligus takjub dengan mereka yang diusia remaja sudah menyelesaikan hafalan qurannya. Sementara aku? Nggak ada apa-apanya lah dari mereka.

Setelah memberikan ucapan selamat atas pencapaian merek, aku pun menyampaikan kisah-kisah ilmuwan-ilmuwan muslim yang sekaligus seorang penghafal alquran. Sebenarnya banyak profesi-profesi yang bisa diambil. Menghafal quran tidak menjadikan penghalang untuk menjadi seorang dokter, insinyur, arsitek dan ragam profesi lainnya.

Setelah sekitar sejam lebih sesi sharing dengan santri. Dengan ragam pertanyaan yang muncul. Akhirnya pertemuan itu pun diakhiri. Aku sih berharap agar sedikit yang kusampaikan bisa membuka cakrawala baru buat mereka.

Selepas santap malam dan berjamaah isya, saya dan pak Soleh kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan pak Soleh bercerita tentang tempat-tempat yang kami lewati. Kami memilih jalur yang berbeda dari waktu kami berangkat. Jadi sedikit sudah tergambar lah lanskap kota Lombok. Yang menambah keyakinan suatu saat harus kembali lagi tentu dengan istri tercinta.

Sapai di rumah pak Soleh pukul 10 lebih. Jihan sudah tidur tapi Fatan terjaga. Kata ibunya dia menunggu kami pulang. Masuk kamar sebentar, Eh pas keluar lagi si Fatan sudah tidur. Betapa lucunya anak itu.

***

Pukul 04.00 pagi terbangun oleh suara pak Soleh mengaji. Aku kira beliau lagi sholat subuh. Ternyata tidak. Keluarga mereka lagi murojaah hafalan. Jihan dan Fatan lagi berusaha menambah hafalannya.

“Masih ada waktu sholat tahajud.” Kata pak Soleh menegurku, ketika dilihatnya aku keluar kamar.

Aku pun bergegas ke kamar mandi mengambil air wudhu dan sholat tahajud setelah sekian lama absen. Ada keharuan membuncah dalam dada. Aku merasa tertampar. Keluarga sederhana benar-benar mengajarkan ku tentang kemana seharusnya letak prioritas hidup.

Tak lama berselang, adzan subuh berkumandang.Aku, pak Soleh dan fatan menuju masjid menembus dinginnya udara pagi.

Seperti kebanyakan masjid, jamaah subuh mayoritas dihadiri orang-orang yang berumur. Tak ada pemuda kampung sama sekali. Sebuah pekerjaan rumah bagi penggiat dakwah.

Sampai di rumah , Pak Soleh menyiapkan masakan, spesial buat ku katanya. Dulu sewaktu di Bontang, aku sering mencicipi masakannya. Kali ini beliau mau memasak lagi buat saya. Sebuah olahan daging kambing entah dimasak apa namanya yang jelas maknyus.hehehehehe…

***

Jarum jam tepat menunjukkan pukul 09.00 aku sampai di bandara LomboK Praya. Bersepeda motor dengan bertiga dengan pak Soleh dan anaknynya Fatan. Turun dari sepeda pangilan boarding ku dengar. Untung sudah check in sebelumnya.

What an amazing journey. A lot of memories. Full of brotherhood.

4 Maret 2017. DiPosting saat landing di BPP.