Kolom

Mengelola Danau dan Bendungan untuk Kehidupan

28 May 2017



Ristek Dikti Ristek Dikti Kolom Opini Ristek Dikti

Sudah tidak terbantahkan lagi bahwa air merupakan sumber kehidupan bagi umat manusia yang sangat vital,  Danau dan Bendungan merupakan tempat kumpulan air baik itu air tawar maupun air asin dalam suatu cekungan bumi yang di kelilingi daratan. Bukan tanpa alasan kenapa kini pemerintah tengah mengupayakan kelestarian kekayaan alam ini karena disamping fungsi dan manfaatnya, danau diyakini dapat menentukan kondisi bumi terutama dalam pengendalian ekosistem kedepan.

Dari data yang dirilis Ditjend Cipta Karya, setiap orang Indonesia memiliki kebutuhan air sebanyak 144 liter perhari, dan 45% dari jumlah itu digunakan untuk kebutuhan mandi. Sementara itu, tempat layanan umum seperti Bandara Soekarno-Hatta memerlukan air sebanyak 16 ribu meter kubik per hari. Hal itu menunjukkan bahwa betapa penting air bagi kehidupan manusia, sehingga danau memiliki peran yang sangat penting untuk menampung dan mengelalola air bagi kehidupan kedepan..

Terdapat ribuan danau di Indonesia, sekitar 850 adalah danau-danau yang berukuran besar dan  730 lainnya merupakan danau kecil atau yang sering disebut dengan situ. Danau Toba merupakan salah satu danau terbesar di Indonesia, memiliki luas permukaan sekitar 1.130 km2 dan volume airnya mencapai 240 km3. Sedangkan laut Kaspia merupakan danau terbesar di dunia, dengan luas mencapai 394.299 km2. Karena memiliki daya tampung air yang cukup besar, maka keberadaan danau pun memberikan banyak sekali manfaat bagi kehidupan di sekitarnya, antara lain untuk penyediaan air bersih, Pembangkit Listrik, sarana irigasi, media Budidaya perikanan, Tempat rekreasi, pengendali bencana alam, habitat bagi tumbuhan dan satwa, sarana penelitian dan pendidikan, sarana transportasi, penghasil barang tambang dan sebagainya.

Bendungan adalah bangunan yang berupa tanah, batu, beton atau pasangan batu yang dibangun selain untuk menahan dan menampung air, dapat juga dibangun untuk menampung limbah tambang atau lumpur. Informasi yang disampaikan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan, umumnya bendungan dilengkapi dengan bangunan pelimpah (spillway), pintu air, dan bangunan lainnya untuk operasional dan keamanan. jumlah bendungan besar yang ada di Indonesia saat ini mencapai sekitar 284 bendungan, berdasarkan kriteria dalam PP No. 37 Tahun 2010 tentang Bendungan, yang diadopsi dari kriteria Komite Nasional Indonesia-Bendungan Besar (KNI-BB) atau Indonesian National Large Dams (INACOLD). Manfaat bendungan dapat dibagi menjadi dua, yaitu single purpose damatau multi purpose dam dan multi purpose damSingle purpose dam berarti bendungan yang dibuat hanya untuk satu tujuan khusus seperti penyediaan air untuk irigasi dan untuk pengendalian banjir. Sedangkan, multi purpose dam seperti Bendungan Jatiluhur didesain untuk berbagai keperluan, seperti irigasi, air baku atau air minum dan juga untuk pembangkit listrik serta pengembangan lokasi kawasan wisata.

Indonesia memiliki curah hujan yang relatif besar namun tidak merata. Sepanjang tahun, sekitar 80% air yang tersedia ketika musim hujan yang berlangsung relatif pendek, sekitar 5 bulan, maka sebaliknya hanya 20% yang tersedia ketika musim kemarau yang relatif lebih lama yaitu 7 bulan. Peran bendungan untuk masyarakat ialah untuk penyediaan air, irigasi dan industri yang sangat vital bagi pembangunan ekonomi dan masyarakat. Bagi petani bendungan sangat bermanfaat terutama pada saat musim tanam. Bendungan juga merupakan pengendali banjir yang efektif, serta penyedia air baku untuk rumah tangga, perkotaan dan juga industri. Tersedianya air untuk irigasi merupakan faktor penentu dalam produksi beras sehingga kebutuhan pangan nasional dapat terpenuhi.

Danau dan Bendungan saat ini

Karena perubahan dan perkembangan alam, tidak selamanya danau dapat melakukan fungsi strategisnya tersebut, disebabkan adanya pencemaran, penyusutan luas maupun pendangkalan danau serta kerusakan bantaran akibat pertambahan pendudukan yang mengakibatkan kebutuhan manusia akan danau dan hutan semakin meningkat. Dengan berkurangnya luasan suatu danau, maka akan dapat berakibat  pada penurunan fungsi danau tersebut sebagai tempat penampungan air. Dengan menurunnya fungsi tersebut akan bisa menyebabkan terjadinya bencana banjir maupun kekeringan di daerah kawasan danau maupun di luar kawasan danau tersebut.  Tidak hanya itu, bendungan yang dulu sangat bergua untuk mengatur irigasi, banjir dan tata kelola air lainnya, bahkan untuk kegiatan budidaya ikan, pelestaran lingkungan serta pariwisata. Namun kini telah drastis turun fungsi dan kehandalannya, antara lain karena pendangkalan, pencemaran dan peciutan permukaan akibat perusakan hutan dan dampak kebutuhan hidup karena pertumbuhan yang begitu pesat.

Solusi Komprehensif

Konservasi meliputi tindakan perlindungan, pengawetan, serta pemanfaatan untuk memelihara kehidupan dan keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya secara berkelanjutan. Penataan ekosistem danau termasuk bendungan semestinya dimulai dengan rencana induk dan penetapan tata ruang ekosistem, yang meliputi ekosistem DAS dan DTA, ekosistem sempadan serta ekosistem perairan. Beerbgai piohak memiliki kewenangan dan fungsi dalam pengelolaan, namun koordinasi dan komunikasi antar berbagai pihak, khususnya pemerintah, pelaku ekonomi, akademisi dan masyarakat sangat diperlukan untuk penyusunan kebijakan, peraturan, penataan dan program rencana tindak. Data dan informasi termasuk evaluasi terhadap spesies endemik, pemetaan jenis dan wilayah perkembangbiakan spesies-spesies terpenting perlu segera dilakukan, berguna untuk penetapan kawasan prioritas program konservasi yang efektif yaitu menjamin berfungsinya ekosistem, terpeliharanya keanekaragaman hayati serta mampu memberi berbagai manfaat bagi masyarakat. Sedangkan strategi pengelolaan ekositem tersebut penting guna menyusun program secara spatial dan fungsional, antara lain:  Penetapan tata ruang ekosistem, pengelolaan ekosistem perairan danau, lahan sempadan danau serta DAS atau DTA, Pemanfaatan sumber daya air, pengembangan sistem informasi dan kelembagaan termasuk koordinasi, Peningkatan partisipasi masyarakat, pendanaan sebagai sumber dana untuk pembiayaan program dan rencana tindak.

Rehabilitasi yang bertujuan untuk memperbaiki dan untuk mengembalikan fungsi danau perlu dilakukan secara kontinyu.

Meningkatkan Riset dan pengembangan Iptek untuk mengoptimalisasi tugas dan fungsi danau dan bendungan secara komprehensif, intergral dan holistik.

Pemanfaatan danau dan bendungan yang tepat sehingga akan memberikan dampak yang berkelanjutan bagi kehidupan, disertai dengan usaha pemeliharaan yang baik agar fungsi dan kegunaan danau dan bendungan untuk masa yang akan datang, antara lain melakukan usaha : Melakukan kegiatan penghijauan di sekitar danau dan bendungan guna mencegah terjadinya erosi serta sedimentasi. Menjaga kelestarian hutan dari kegiatan eksploitasi hutan yang akan menyebabkan hutan gundul. Menghindari pembuangan sampah maupun limbah ke danau.

Tidak ada kata yang bisa memberi solusi komprehensif tentang pengelolaan danau dan bendungan kecuali memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi memiliki pakar dan tenaga ahli yang cukup mumpuni untuk mengelola danau dan bendungan untuk kehidupan yang lebih baik kedepan. Indahnya kerjasama dan sinergi yang melampaui tugas dan fungsi instansi akan mampu memberi nilai tersendiri dalam pengelolaan Danau dan Bendungan ini.

Salam Inovasi…

Oleh : DR. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng.

sumber: http://indonews.id/mengelola-danau-dan-bendungan-untuk-kehidupan/