Ummah

Islam di Kepulauan Komoro

07 June 2017



Menjadi kecil kadang terlupakan. Sebagaimana sebuah negara kepulauan yang terletak di lepas Pantai Mozambik, Afrika Tenggara, yakni Kepulauan Komoro. Secara bahasa, nama Komoro memang merujuk pada sesuatu yang kecil. Ia berasal dari bahasa Arab, Juzur al-Qamar, yang berarti Pulau Bulan Kecil.

Nah, ukurannya yang kecil membuat tak banyak Muslim dunia yang tahu jika 98 persen penduduk negeri ini beragama Islam. Di Afrika, umat Islam mungkin mengenal Mesir, namun tidak Komoro. Padahal, negara ini jelas-jelas melabelkan dirinya sebagai negara Islam dengan identitas Federal Islamic Republic of Comoros.

Islam memang memiliki sejarah yang tua di kepulauan ini. Agama Allah dibawa ke kepulauan ini sejak zaman Nabi Muhammad SAW oleh dua orang Komoro, yaitu Fey Bedja Mwamba dan Mtswa Mwandze. Mereka kem bali ke Komoro setelah melakukan perjalanan ke Tanah Suci Makkah. Bukti sejarah juga menun jukkan bahwa pedagang Arab dan seorang pangeran Persia dari Shiraz turut berjasa meng hadirkan khazanah Islam di Komoro.

Di negara kepulauan ini, Islam diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan pemerintahan. Meski sempat mengalami dua kali penjajahan oleh negara Eropa, yaitu Prancis dan Portugal, akar Islam di negara ini tidak tercabut. Selama masa kolonisasi pada 1832, Prancis tidak berusaha meminggirkan praktikpraktik Islam di kalangan warga dan penguasa setempat.

Pada 6 Juli 1975, Komoro memproklamasikan keme rdekaannya dari Prancis. Sejak saat itu, rakyat Komoro sepakat mendirikan negara Islam. Pascakemerdekaan, kon disi ekonomi dan politik Komo ro tidak stabil sehingga penerapan HAM dan keadilan sosial tak sepenuhnya berjalan. Meski demikian, Komoro tak absen dalam membantu mengatasi masalah internasional terkait Islam di dunia. Padahal, saat itu negeri ini belum bergabung dengan Liga Arab. Komoro, misalnya, ikut dalam menyelesaikan konflik di Jalur Gaza, Palestina. Ketika Israel melakukan serangan brutal atas Gaza, Komoro adalah satu dari sekian negara yang hadir dalam konferensi di Doha dan memprotes keras Israel. Komoro juga aktif berhubungan dengan negara-negara Islam lainnya.

Islam di Komoro

Di dalam negeri, umat Islam di Komoro secara sungguh-sungguh mengimplementasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menggelar dan mengikuti perayaan hari be sar Islam, seperti Idul Adha, Muharam, Asyura, Maulid Nabi, dan Isra Mi’raj, secara meriah.

Saat Maulid, orang-orang Komoro biasanya menggelar pesta cukup meriah yang dihadiri oleh para ulama besar. Hal lain yang menarik adalah keberadaan sekitar 1.400 masjid di seluruh pulau di wilayah Komoro yang luasnya hanya sekitar 1.800 kilometer persegi. Di antara masjid-masjid itu dibangun oleh para pedagang Arab sebagai bagian dari asimilasi budaya Islam dan Afrika.

Hassan Ibnu Issa yang mengklaim dirinya sebagai keturunan dari Nabi Muhammad SAW mendorong dilakukannya konservasi terhadap masjid-masjid itu. Masjid-masjid di Komoro merepresentasikan bakat seni yang dimiliki warga setempat. Kaum laki-laki menekuni seni ukir kayu sedangkan kaum wanitanya banyak yang berprofesi sebagai penjahit.

Pada 1998, sebuah masjid terbesar di negara itu dibangun oleh seorang Muslim kaya raya. Namanya, Masjid Moroni yang kini menjadi salah satu objek wisata religi di Komoro. Bahkan, para ulama dan pendiri aliran Tariqah kerap datang berkunjung ke tempat ini.

Kemiskinan

Selain dijuluki Pulau Bulan Kecil, Komoro juga memiliki julukan lain yang tak kalah indah, yaitu Kepulauan Parfum. Julukan itu disandang karena negara tersebut adalah rumah bagi dua pertiga bibit parfum dunia. Meski demikian, aroma tak sedap acap merebak dari kepulauan ini. Aroma itu adalah kemiskinan.

Komoro masuk dalam 10 daftar negara paling miskin di dunia. Negara ini dihuni oleh sekitar 798 ribu penduduk dan merupakan negara keenam terkecil yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi di Afrika dengan pendapatan per kapita penduduk hanya sekitar 600 dolar AS. Dengan kata lain, sekitar setengah dari penduduk Komoro hidup di bawah garis kemiskinan internasional sebesar 1,25 dolar AS per hari. Tak aneh bila ada penduduknya yang kekurangan gizi. Setidaknya, lebih dari 42 persen anak-anak di Komoro di atas dan di bawah usia lima tahun menderita kekurangan gizi kronis.

Pertanian memang menyumbang 40 persen terhadap PDB dan mempekerjakan 80 persen dari angkatan kerja. Namun, hal itu tak cukup untuk menyokong negara ini mengingat sumber daya alam yang bisa diekspor hanya vanili, cengkih, dan bibit parfum yang rentan terhadap fluktuasi harga.

Sayangnya, keadaan Komoro ini tak banyak mengundang simpati dari negara Islam lainnya. (Republika)