Muallim

Jabin Ibn Hayyan Sempurnakan Praktik Distilasi Yunani

18 June 2017



Praktik distilasi seperti yang dilakukan oleh Ibn Hayyan bisa diterapkan dalam skala laboratorium ataupun industri. Distilasi itu juga bisa dite rap kan untuk berbagai macam larutan, mulai dari herbal un tuk parfum, obat, pemrosesan makanan, atau pembuatan alkohol. Namun, penggunaannya yang paling masif saat ini adalah fraksinasi kolom untuk minyak mentah.

Distilasi fraksional adalah pemisahan suastu campuran menjadi komponen pembentuknya berdasarkan fenomena keseimbangan cair-uap dalam campuran. Dalam istilah praktisnya, ketika dua atau lebih zat membentuk campuran dalam fasa cair, distilasi bisa menjadi metode paling tepat untuk me misahkan menjadi masingmasing zat pembentuk.

Syaratnya, masing-masing zat pembentuk itu memiliki volatilitas berbeda yang ditunjukkan dari titik didihnya. Pemisahan larutan kimia dilakukan dengan cara mema naskan sampai mencapai titik-titik didih dari masing-masing zat komponen pembentuknya sehingga mereka akan menguap satu per satu sesuai suhu pemanasan.

Material yang pertama kali dihasilkan dari distilasi minyak mentah adalah gas petroleum yang bisa digunakan untuk memasak maupun pembuatan plastik. Temperatur pemanasan agar gas ini keluar dari larutan minyak mentah kurang dari 104 derajat Fah ren heit atau 40 derajat Celsius.

Distilasi paling sederhana yang sudah dilakukan manusia sejak zaman dulu adalah pembuatan minuman beralkohol. Minuman memabukkan ini dibuat dengan cara mengem bun kan uap alkohol yang di hasilkan dari pemanasan cair an bahan yang difermentasi (anggur, gandum, jagung, atau beras). Karena kadar alkohol dari minuman hasil distilasi itu jauh lebih tinggi dibandingkan cairan fermentasi, proses ini disebut juga pemurnian.

Nah, rupanya Jabir Ibn Hayyan atau di Barat disebut sebagai Geber ini juga dikenal sebagai ahli pembuatan mi num an beralkohol memakai alat distilasi ciptaannya yang diberi nama alembik, alat distilasi terdiri atas dua bejana. Bejana pertama untuk pema nasan larutan dan bejana ke dua digunakan untuk pengembunan uap hasil pemanasan larutan yang akan dipisahkan.

Sebenarnya, bangsa Mesir yang pertama kali mengembangkan alat distilasi paling sederhana (still), sebagaimana terlihat pada relief di kuil kuno Memphis. Ilmu kimia atau al kemi awalnya berasal dari Yu nani dan Babilonia pada 300 SM dan kemudian berkembang pesat di Alexandria, Mesir, pa da sekitar 200-300 M. Penge tahuan dan peralatan distilasi yang digunakan orang Arab diyakini diperoleh dari Mesir.

Namun, jelas orang Arab yang pertama kali memperkenalkan istilah alembik dan al kohol. Alembik bermakna be jana distilasi, merupakan tu runan dari kata yang arti me taforanya adalah ‘yang di haluskan, yang diubah’ melalui distilasi. Sementara, alkohol awalnya dipakai sebagai kata untuk menggambarkan timbal keras atau bubuk antimoni dan kemudian menjadi kata yang mewakili kelezatan dan keha lusan, sebagaimana uap hasil distilasinya.

Ahli sejarah Marco Graco adalah yang pertama kali mencatat mengenai kegiatan distilasi minuman anggur di Arab pada abad ke-8, mungkin ca tat an sejarah pertama mengenai pembuatan minuman itu. Selanjutnya, abad ke-9 me nan dai awal pengembangan ilmu kimia di Arabia walau masih mendapat pengaruh besar dari mazhab Alexandria. Pada masa ini, bangsa Arab mengumpul kan semua pengetahuan kimia yang bisa mereka dapatkan dari manuskrip Yunani, Buku Crates.

Namun, tetap saja hasil kar ya Jabir yang dipubli ka sikan pada 850 M dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa latin sebagai De Sum ma Perfectionis itu yang telah membimbing bangsa Eropa pada pemikiran dan metode ilmu kimia. Berbagai kitab il mu kimia dalam bahasa Arab disimpan di Perpustakaan Na sional Paris dan perpustakaan Universitas Leiden. Berthelot yang menerjemahkan kitabkitab dalam bukunya Chime au Moyen Age mengelompokkannya dalam dua golongan. Buku pertama yang isinya banyak merupakan kompilasi sumbersumber Yunani dan golongan kedua yang merupakan hasil karya Arab sendiri.

Dari kitab al-Fihrist karya sejarawan Persia Ibn al-Nadim, didapatkan informasi bahwa Muslim yang menjadi penulis awal ilmu kimia adalah Khalid Ibn Yazid (wafat 704 M), se orang khalifah Dinasti Umay yah yang menjadi murid dari pendeta Suriah, Marianus. Sumber lain mengungkapkan bahwa Ibn Yazid yang hanya memerintah dalam waktu sing kat itu juga Muslim pertama yang menerapkan metode distilasi alkohol. Sementara, ahli kimia Muslim lainnya seperti Ibn Sina yang hidup pada abad ke-10 dalam bukunya masih menerangkan mengenai alem bik dan segala fungsinya. (Republika)