Ummah

Muslim di Barbados, Kepulauan Karibia

09 June 2017



Pulau Barbados hanya berjarak 2.585 km dari wilayah Amerika Serikat (AS). Tak heran, ketika peristiwa 9/11 terjadi, kabar tersebut juga menyebar luas ke Barbados.

Bila di AS kejadian tersebut menumbuhkan pandangan negatif terhadap Islam, tak demikian di Barbados. Muslim di negeri ini tetap bisa tidur nyenyak dan diterima warga setempat seperti saatsaat sebelumnya.

Pada Idul Fitri 2002, Menteri dan Senator Barbados Glyne Murray mengunjungi umat Islam di Masjid Kensington. Dia membacakan sambutan dari perdana menteri Barbados. Dalam sambutan tersebut, Pemerintah Barbados menegaskan sejumlah hal penting.

“Saat ini, ketika banyak negara mencurigai dan membenci Muslim, saya rasa Barbados memiliki kesempatan emas untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa hidup bersama seperti saudara. Karena kita mengetahui, bawah kita bekerja untuk satu tujuan yang sama. Untuk mencapai hidup yang lebih baik dan Barbados yang lebih baik bagi kita bersama,” katanya.

Meski demikian, menurut Sekretaris Asosiasi Muslim Barbados Suleiman Bulbulia, sebenarnya masih ada kesalahpahaman di kalangan masyarakat Barbados dalam mengartikan Islam. “Misalnya, masih banyak yang menyangka bahwa Islam adalah agama orang India. Padahal, Islam di India adalah agama minoritas,” katanya.

Banyak juga orang Bajan yang salah paham tentang kedudukan Yesus dan peran wanita dalam Islam. “Yesus di Islam adalah nabi dengan posisi yang tinggi,” ujar Bulbulia.

Ditegaskannya, perempuan memiliki peran penting. “Sebagai ibu dari anak-anaknya. Istri dari suaminya, dan dia adalah pemimpin dalam keluarganya karena dia yang membesarkan dan menjadi guru pertama bagi anakanaknya,” katanya. Jadi, peran perempuan dalam Islam sama sekali tidak inferior. “Maka, saat memilih menjadi Islam, bukan berarti dia adalah perempuan yang tidak intelek,” jelas Bulbulia panjang lebar.

Berada jauh di Samudra Atlantik, Pulau Barbados telah mencatat sejarah dalam dunia Islam. Negara yang dijuluki ‘Inggris Kecil’ atau ‘Little England’ ini menjadi salah satu tonggak kebangkitan Islam di wilayah Karibia.

Saat ini, terdapat sekitar 4.000 Muslim tinggal di Barbados. Mereka kebanyakan adalah imigran atau ketururan imigran dari Gujarat, Guyana, Trinidad, Asia Tenggara, dan Timur Tengah. Sementara, sekitar 200 orang adalah orang asli Barbados atau Bajan.

Sejarah mencatat, Islam pertama kali sampai di Barbados lebih dari 90 tahun lalu ketika Abdul Rohul Amin, penjual sutra dari Bengal, India, datang di negara pulau ini pada 1913. Setelah itu, makin banyak orang dari Bengal yang datang ke negara tersebut dan berbagi sebuah rumah di Wellington Street.

Beberapa dari mereka juga tinggal di Pasar Susu dan Jalan Tudor di atas toko sepatu Bata di Bridgetown, Ibu Kota Barbados. Banyak orang Bengal yang kemudian menikah dengan perempuan Barbados dan membangun keluarga di Bridgetown.

Orang-orang Muslim ini kemudian mulai berkeliling melakukan perdagangan ke segala penjuru Barbados hingga saat ini. Pada awalnya, perdagangan dilakukan dengan warga Barbados miskin yang tinggal di bagian negara yang sulit dijangkau. Mereka ti dak mampu berbelanja ke kota. Untuk sampai ke tempat-tempat terpencil itu, mereka tak keberatan menumpang bus.

Jika tidak ada bus saat itu maka mereka dengan senang hati berjalan dengan jarak yang sangat jauh hanya untuk mengakomodasi para pelanggannya. Saat itu, banyak orang Barbados yang tidak mampu membayar barang-barang tersebut dengan tunai.

Saat itulah, para pedagang dari Bengal ini mulai memperkenalkan sistem pembayaran secara kredit. Selama bertahun tahun, para pedagang ini membangun hubungan yang saling menguntungkan dengan orang-orang Bajan.

Mengikuti jejak orang-orang Bengal, kaum Muslim dari Gujarat akhirnya tiba juga di Barbados pada 1929. Mereka seharusnya datang ke Brasil untuk memotong kayu, namun malah ‘terdampar’ di Guyana yang bertetangga dengan Barbados. Awalnya, Muslim Guja rat hanya mengunjungi Barbados selama beberapa waktu untuk menjual batu bara. Lama- kelamaan, mereka pun memu tuskan untuk menjadikan Bar bados sebagai tempat tinggal.

Kebanyakan mereka juga tinggal di Jalan Tudor dan Pasar Susu. Setelah itu, makin banyak Muslim Gujarat yang datang dan tinggal di berbagai tempat di Barbados. Mereka berkeliling menjajakan dagangan dan umumnya sangat sukses.

Tak heran jika banyak dari mereka yang bisa membeli rumah di kota. Beberapa di antara mereka bekerja sama membangun toko di Jalan Swan dan Tudor. Muslim dari negeri tetangga, seperti Trinidad dan Gu yana, tak sedikit pula yang berimigrasi ke Barbados dan tinggal di Bridgetown serta membangun komunitas sendiri.

Saat ini, anak, cucu, dan cicit dari Muslim pertama yang tinggal di Bridgetown terlibat dalam ham pir semua aspek kehidupan masyarakat Bajan. Mereka memberikan kontribusi yang sig ni fikan dalam membangun Brid getwon dan Barbados secara keseluruhan. Mereka menjadi dok ter, pengacara, insinyur, dan PNS yang sukses.

Tempat ibadah pertama bagi kaum Muslimin di Barbados di diri kan Kensington New Road, Bridgetown, pada 1950. Tempat ibadah kedua didirikan di Sobers Lane pada 1957. Dua mas jid lainnya juga dibangun di Bridgetown. Masjid-masjid tersebut mengumandangkan azan lima waktu ke sepenjuru negeri dan setiap pekan menghelat kajian Alquran dan hadis. Di masjid pula, anak-anak Muslim sejak umur empat tahun diajarkan membaca Alquran dan mempraktikkan sunah Rasul. (Republika)