Ummah

Pesat, Perkembangan Islam di Papua Nugini

12 June 2017



Meski jumlah Muslim terbilang masih sangat sedikit di Papua Nugini, tetapi dalam beberapa tahun terakhir jumlahnya terus meningkat. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya pejuang dari milisi Islam Laskar Jihad muncul di negara itu. Bahkan, sejumlah pihak memprediksi, Islam bisa menjadi mayoritas di Papua Nugini.

“Dalam waktu 20 tahun hingga 30 tahun mendatang, sebagian besar warga Papua Nugini diperkirakan sudah masuk Islam,” ujar seorang imam di Papua Nugini, Syekh Khalid, seperti dilaporkan ABC News, Australia.

Menurut Syekh Khalid, banyaknya penduduk Papua Nugini yang masuk Islam bukan karena mereka tidak menyukai agama lain, melainkan hanya karena alasan sederhana, yaitu mereka menemukan kepuasan di dalam Islam. Ia menambahkan, ajaran Islam lebih mudah diterapkan ketimbang ajaran agama lain.

“Selain itu, dalam Islam kita adalah guru untuk diri kita sendiri. Tuhan tidak hanya ada di masjid, tetapi selalu berada di samping kita, di mana pun kita berada. Ibadah pun bisa di mana saja. Kita bisa shalat di bawah pohon, di rumah, atau di tempat lainnya,” katanya panjang lebar.

Sekretaris Umum Komunitas Islam Papua Nugini Isa Teine menambahkan, Islam mudah diterima di negara ini karena memiliki kesamaan dengan budaya Melanesia. “Ketika kami menyapa orang sesama laki-laki, kami memeluk mereka. Kebiasaan ini sama di dalam Islam. Sehingga, ketika Islam datang, budaya yang dibawanya cocok dengan kami.”

Meski ada potensi perkembangan Islam di Papua Nugini, tetapi masih banyak tantangan yang akan dihadapi Islam pada masa depan. Masalah utama adalah masih ada Islamofobia di negara tersebut. Komunitas Islam kerap menjadi target aksi kekerasan, seperti beberapa waktu lalu ketika sebuah tempat ibadah Islam ditembaki.

Umat Islam juga masih kesulitan mendapatkan izin untuk mendirikan masjid. Para pemimpin gereja biasanya keberatan jika ada rencana pembangunan masjid baru. Mereka beralasan, masjid tidak sesuai dengan karakter sejarah Kristen di negara ini.

Tantangan juga datang dari komunitas agama mayoritas di Papua Nugini. Melihat perkembangan Islam yang cukup pesat di Papua Nugini membuat pemimpin gereja di wilayah tersebut gelisah. Meski demikian, mereka mengaku tidak merasa terancam oleh fakta tersebut. Salah seorang tokoh Kristen setempat, Pastor Yusuf Walters, mengatakan, “Kristen di negara ini sangat kuat. Perjalanan saya dalam mengkhotbahkan Injil di seluruh negara dan masyarakat umum sangat gigih.”

Sejumlah tantangan tersebut, menurut  Syekh Khalid, merupakan imbas dari kesalahpahaman tentang Islam. Kondisi ini diharapkan berubah seiring banyaknya penduduk yang masuk Islam setiap tahunnya.

Berkembang Pesat

Meskipun hanya berbatas garis dengan Indonesia yang merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, Papua Nugini memiliki kondisi yang jauh berbeda. Di sana, Islam merupakan agama minoritas. Bahkan, Kristen memiliki akar yang kuat di Papua Nugini.

Islam baru masuk ke Papua Nugini pada abad ke-16. Masuknya Islam terjadi karena ada sebagian orang Papua Nugini yang kerap berdagang dengan pedagang Cina dan Melayu yang beragama Islam. Islam juga disebarkan oleh para buruh kontrak yang datang ke negeri itu pada 1972, diikuti oleh diplomat dari Malaysia dan Indonesia setelah negara ini merdeka pada 1975.

Pada 1981, seorang berkebangsaan Inggris yang kebetulan merupakan penduduk permanen di Papua Nugini memeluk Islam. Tahun berikutnya, sejumlah warga asli Papua Nugini mengikuti jejaknya. Bahkan, seperti dilaporkan koran setempat, ada sebuah kampung yang semua penduduknya masuk Islam pada saat yang sama.

Seiring perkembangan Islam di kancah internasional, simpati dunia Islam terhadap Muslim di Papua Nugini juga bertambah. Pada 1988, umat Islam di Papua Nugini mendirikan pusat Islam (Islamic centre) pertama dengan bantuan dari Lembaga Dakwah Asia Tenggara yang bermarkas di Malaysia dan Kementerian Urusan Islam Arab Saudi. Pada 1996, tiga pusat Islam kembali didirikan dengan bantuan dari Liga Muslim Dunia. Di seluruh Papua Nugini, sekarang terdapat tujuh pusat Islam.

Saat ini ada sekitar 4.000 Muslim di negara  yang pernah dijajah Belanda, Jerman, dan Inggris itu. Kebanyakan Muslim tinggal di sekitar Port Moresby (ibu kota negara), Baimuru, Daru, Marchall Lagoon,  Musa Valley dan di Pulau New Britain serta New Irlandia.

Pada 1987, umat Islam negeri itu dengan bantuan Liga Muslim Dunia yang berkedudukan di Arab Saudi mengontrak sebuah rumah di wilayah Korobosea. Rumah kontrakan itu kemudian diubah dan digunakan sebagai tempat ibadah umat Islam selama bertahun-tahun.

Sayangnya, rumah tersebut hanya mampu menampung 50 orang Muslim. Padahal, jumlah Muslim terus bertambah seiring kian banyaknya orang asing yang beragama Islam bekerja di Papua Nugini, khususnya di Port Moresby.

Akibatnya, rumah itu tak bisa lagi menampung umat Islam yang ingin beribadah, terlebih untuk shalat Idul Fitri atau Idul Adha. Tempat ibadah itu kemudian dialihkan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Port Moresby yang mempunyai halaman cukup luas untuk menampung umat Islam.

Masjid Indonesia di Papua Nugini

Atas permohonan dari umat Islam di Papua Nugini, pemerintah setempat pada 1992 menghibahkan sebidang tanah seluas 3.500 meter persegi yang berlokasi di luar kantor kompleks KBRI. Di atas tanah itulah rencananya masjid pertama dibangun. Tetapi, keinginan untuk membangun masjid tidak dapat dilaksanakan secepatnya lantaran dana yang sangat tidak mencukupi.

Melihat kondisi itu maka pada 1996 Duta Besar RI untuk Papua Nugini mengajukan permohonan bantuan ke Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP) untuk membangunkan masjid di atas tanah yang telah disediakan tersebut. Pada tahun itu juga, YAMP mengabulkan permohonan tersebut dengan mentransfer dana senilai 100 ribu dolar AS ke KBRI Port Moresby yang selanjutnya diserahkan kepada pengurus Port Moresby Islamic Centre.

Pada 1999, Duta Besar RI di Port Moresby melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan masjid dan baru pada 2001 masjid tersebut selesai dikerjakan. Masjid yang diberi nama Port Moresby Central Muslim tersebut memiliki luas bangunan 1.000 meter persegi dengan kapasitas 1.000 orang jamaah. Karena dibangun atas dana dari umat Islam di Indonesia melalui YAMP, tak berlebihan kiranya jika masjid itu disebut “Masjid Indonesia”.

Selain untuk shalat, masjid itu juga digunakan untuk menggelar kegiatan keislaman, seperti pengajian serta pesantren kilat yang diselenggarakan dua kali dalam satu tahun. Sejak berdirinya masjid di Port Moresby itu, tak kurang 200 warga asli Papua Nugini telah menyatakan diri menjadi Muslim.