Islamic Digest

Dari Bisnis, Islam Tiba di Nusantara

15 June 2017



Ada satu hal menarik dari perdagangan di kalangan Muslim. Terlepas dari sudut pandang ekonomi, para pedagang Muslim mengambil peran sebagai penyebar Islam, terutama ke nusantara dan negara sekitar di Asia Tenggara.

Terdapat empat teori pembawa Islam hingga tiba di nusantara. Teori Gujarat memandang orang Arab bermazhab Syafi’i yang telah lama bermukim di Gujarat sekitar abad ketujuhlah pelaku utamanya. Para pedagang Gujarat inilah yang membawa Islam ke nusantara. Namun, kemudian teori yang dicetuskan sejarawan Belanda J Pijnapel dan diamini orientalis Belanda Snouck Hurgronje tersebut dibantah oleh cendekiawan Muslim, Hamka.

Buya Hamka menjelaskan teori Arab yang menentang teori Gujarat. Menurutnya, Islam masuk ke nusantara melalui proses langsung dari Arab, lebih tepatnya Makkah. Proses yang berlangsung pada Abad ketujuh Masehi tersebut melalui jalur perdagangan Indonesia-Arab yang memang telah terjalin jauh sebelum abad tersebut. Bahkan, motivasi awal kedatangan Arab ke nusantara, menurut Buya Hamka, bukanlah ekonomi, melainkan dakwah Islam murni. Teori ini mirip teori sufi oleh AH Johns yang menyebutkan para musafir sufilah pelaku Islamisasi Indonesia.

Beda pula dengan teori Parsi. Sejarawan Hoesein Djajadiningrat merumuskan, kedatangan Islam ke nusantara berasal dari negeri Parsi atau Persia, yang kini merupakan wilayah Iran. Banyaknya tradisi Syiah, seperti Asyura di Indonesia, menguatkan teori tersebut. Terdapat pula teori Cina. Teori tersebut menyatakan, perantau Cinalah yang membawa Islam ke Indonesia. Sebagaimana era Hindu-Buddha, pedagang Tionghoa telah biasa berbaur dengan masyarakat Indonesia.

Meski teori beragam, keempatnya meyakini para pedaganglah yang membawa Islam ke nusantara. Sejarawan Universitas Indonesia DR Bondan Kanumoyoso menuturkan, peran pedagang sangat strategis dalam penyebaran Islam di nusantara dan Asia Tenggara. Tak jelas apakah ulama ikut serta dalam perdagangan. Namun, menurutnya, para pedagang yang datang merupakan Muslim yang taat. “Jangan membuat dikotomi antara pedagang dan ulama. Pedagang ini motor penggerak penyebaran Islam di Asia Tenggara,” tuturnya. (Republika)