Ummah

Bangkitnya Dakwah Islam di Latvia

19 June 2017



Pada dua dekade terakhir pada abad ke- 19 kehadiran Muslim meningkat. Islam merupakan agama transnasional yang ada di Latvia. Komunitas Muslim pertama di Riga terbentuk pada 1993. Komunitas ini juga dibentuk di Jekabplis dan Daugavpils.

Sejak 1997, yang menjadi imam adalah keturunan Tatar, Midhat Satdanov. Saat ini, terdapat 15 komunitas Muslim di Latvia yang tidak memiliki payung hukum. Pada 2005, seorang doktor beragama Kristen yang berasal dari Lebanon, yaitu Hosam Abu Meri mendirikan Pusat Arab Latvia. Lembaga ini menyatukan orang Arab di Latvia yang berjumlah sekitar 120 orang.

Pada 2011, Pusat Islam Latvia didirikan dan Zufars Zainullin terpilih sebagai ketua pertama. Anggota dan pengunjung Islamic Center sebagian besar adalah mahasiswa asing dan warga Latvia. Jumlah warga Latvia yang menjadi mualaf masih sedikit.

Namun, mereka merasa lebih religius ketika memeluk Islam.

Kendati demikian, pengaruh budaya Muslim meningkat dalam dua dekade terakhir. Toko kebab menjadi pemandangan yang umum di Riga termasuk motif Timur Tengah dalam seni dan musik Latvia.

Universitas Latvia juga membuka studi Asia dengan pengajarnya profesor budaya Islam, Leons Taivans. Gerakan penerje mahan Alquran juga menggeliat. Alquran telah diterjemahkan dua kali ke dalam bahasa lokal.

Persentuhan budaya Latvia dan Islam juga berlangsung melalui pariwisata. Mesir dan Turki adalah rute wisata umum bagi orang Latvia. Umumnya orang Latvia tidak asing dengan budaya Islam. Banyak kasus perkawinan campuran dan kontak internasional.

Namun, perang yang sedang berlangsung melawan terorisme dan krisis pengungsi baru-baru ini telah memicu kebangkitan Islamofobia di masyarakat Latvia. Publik khawatir aksi terorisme yang menargetkan Eropa, merambah ke Latvia. Ini antara lain tergambar dari gesekan budaya asing dari para imigran yang berpotensi memecah belah masyarakat Latvia.

Setelah Merdeka Banyak Muslim Tinggalkan Latvia

Setelah Latvia merdeka, tak sedikit Muslim meninggalkan Latvia dan pergi ke daerah etnis mereka. Orang Tatar semula berjumlah 3. 168 jiwa pada 1989. Namun, pada 2011, jumlah tersebut menyusut menja di 2. 164 jiwa.

Nasib sama juga menimpa komunitas Azer di Latvia. Semula entitas mereka berkisar 2. 765, tapi perlahan empat tahun kemu dian berkurang drastis, hingga separuh lebih. Berbeda dengan dua entitas sebelumnya, orang Chechen justru semakin bertambah sejak Perang Kemerdekaan Chechnya.

Saat ini, Latvia menjadi anggota Uni Eropa. Isu imigran belakangan semakin menguat. Muncul kekhawatiran masuknya imigran dari Turki dan negara Muslim lainnya. Padahal, mereka yang datang hanya mahasiswa asing. Sedangkan mereka yang menjadi imigran gelap telah ditahan.

Kehadiran Islam sebagai agama di Latvia sejauh ini masih tidak terlihat. Satu- satunya masjid hanya terletak di Jalan Brivibas 104, Riga. Pada 1902, sebuah orga ni sasi Muslim dibentuk dan mendapat pengakuan pemerintah. Komunitas tersebut dipimpin oleh Ibrahim Davido. Mereka juga meresmikan ruang shalat pertama.

Mayoritas Muslim yang tinggal di Latvia pada awal abad ke-20, dipaksa melayani tentara Rusia. Setelah mereka dibebaskan dari pelayanan, biasanya dikirim bekerja ke Moskow.

Selama pembentukan Uni Soviet dan terjadinya perang sipil, banyak pengungsi yang masuk ke Latvia, termasuk Muslim dari berbagai etnis. Namun baru diketahui Muslim Latvia merupakan orang Turki.

Pada 1928, Husnetdinov, imam Turki memim pin komunitas Muslim Riga di Latvia.

Sejarah Mencatat, Umat Islam di Latvia Alami Diskriminasi

Islam adalah agama minoritas di Latvia. Pew Forum menyebutkan, jumlah Muslim Latvia diperkirakan mencapai 2.000 jiwa yang didominasi oleh penganut mazhab Sunni. Tak mudah menjadi minoritas di negara yang terletak di kawasan Baltik, Eropa Utara, ini. Berbeda dengan Yahudi yang juga minoritas, kondisi Muslim Latvia termarjinalkan.

Sejarah mencatat bahwa diskriminasi dan berbagai bentuk tekanan terhadap umat Islam. Pada 1940, misalnya, saat Soviet menduduki negara ini, mereka kerap mendapat tekanan. Akibat berbagai tekanan tersebut, umat lebih memilih penjara ketimbang melarikan diri.

Mereka menjadi tawanan tentara merah dan sebagiannya bekerja di Latvia. Saat itu, Shakir Husnetdinov tetap menjadi pemimpin. Hampir semua Muslim Latvia yang hidup sebelum perang hilang.

Gelombang baru imigran Muslim muncul saat pendudukan Soviet pada 1944. Mereka adalah orang Tatar Krimea. Lalu komu nitas Azeri dan Chechen muncul ber sama dengan kehadiran Muslim Asia Tengah.

Kalangan ini menganggap identitas dan tradisi Islam telah tercerabut dari Rusia.

Selama pendudukan Soviet atas Rusia, praktik keagamaan dibatasi. Soviet memper sempit ruang gerak organisasi keagamaan. Pada masa ini pula umat belum mendapatkan kesempatan shalat di masjid yang repersentatif. Demikian halnya terkait persoalan lain, seperti pemakaman.

Pada 1958, Dewan Komunitas Muslim Riga Riga Rufiya Sheviryova membangun pemakaman Muslim di Jekabpils, sebelah pemakaman Yahudi. Sebelum kompleks pemakaman Muslim tersebut dibangun, jenazah Muslim dimakamkan bersama di kompleks kuburan orang Yahudi dan sering menuai protes.