Kolom

Gajah Mada dan Pseudo History

21 June 2017



Arif Abdullah A Business & Industrial Consultant | Birmingham, UK

Saya kutip sedikit tentang sebuah diskusi tepatnya tahun 2016 bulan Januari, saat itu musim dingin di Inggris, dan kami (saya dan ayah saya) diundang mengisi Pengajian di Pengajian Al-Imanu Newcastle dengan tema Halal Foods. Ada seorang sahabat bertanya siapakah Ahli Kitab, apakah orang kristian dan yahudi sekarang?

Kemudian apa hubungannya tema halal foods dengan ahli kitab? jika dipahami maka pertanyaan ini sangat fundamental, karena setelahnya anda akan menafsirkan pengecualian makan yang dapat dikategorikan halal, yakni yang disembelih oleh non Muslim. Dalam kesempatan ini saya menjawab dengan yakin: ahli kitab adalah orang yang membaca dan memahami kitab-kitab yang diwahyukan, tampaknya sahabat itu sedikit ragu dengan jawaban saya, dan saya menangkapnya dan berkesan dengan responnya, jawaban itu terus saya dalami untuk diperkaya ataupun dikoreksi jika terdapat kebenaran yang lebih bisa di validasi.

Apa hubungannya dengan Gajah Mada dan Pseudo History?

Gajah Mada hidup dizaman hindu, yang menjadi perdebatan adalah apakah gajah mada Islam? baik, karena ini masih sulit untuk dibuktikan, bagaimana jika kita mengarah pada hal yang lebih mudah untuk dibuktikan, yakni Gajah Mada dan masyarakat hindu khususnya kalangan brahmana adalah penganut monoteis, yakni beragama tauhid, bertuhan satu, hipotesis saya adalah Milah Ibrahim, yang tentu perlu ditelusuri kembali.

Di kesempatan lain, belasan tahun yang lalu, ketika di bangku Tsanawiyah, lebih muda dari penulis “warisan” sepertinya, saya membaca satu ulasan di dalam koran Republika tentang satu klaim oleh pendeta Hindu, bahwa risalah tentang kedatangan khataman anbiya, rasulullah Muhammad SAW tertulis dalam Tripitaka, kitab yang kemudian saya temukan terselip di rak-rak buku ayah saya, kemudian diberitahu kitab tersebut dibagikan oleh seorang kawan kepada para anggota MUI atau Depag (saya lupa).

Belasan tahun saya memegang hipotesis tersebut, dan saya tidak menuliskannya di facebook, dan saya tetap tidak meragukan risalah Islam, justru semakin memperkaya pemahaman saya.

Sekarang di zaman Dr Zakir Naik, beliau memaparkan dalam dakwahnya kepada pemeluk hindu, bahwa dalam kitab mereka, Tripitaka, tertulis tentang datangnya nabi terakhir, namanya Ahmad, bapaknya Abdullah dan Ibunya Aminah (tentunya dalam bahasa sanskrit). dan hipotesis saya juga berikut dengan informasi tanda-tanda fisiknya, seperti bekas merah di badannya (seperti yang dicek oleh pendeta Nasrani Buhaira), dan ini hipotesis saya berikutnya tentang Avatar.

Ketika anda terlalu banyak baca, mungkin berhalusinasi 🙂 , tetapi ini menariknya membaca dari berbagai referensi, sama dengan metode penguatan dalam hadits, berita dhaif (lemah) yang disebutkan juga oleh referensi lain, maka dapat memperkuat berita tersebut.

Dengan Gajah Mada?

Jika yang disampaikan oleh Dr Zakir Naik adalah benar (tentu dia yakin benar, karena sudah membaca Tripitaka, sedangkan saya masih ada sedikit keraguan karena belum membaca sumber primernya), dan yang juga disebutkan di koran republika, dan juga yang dirilis oleh pendeta hindu di amerika, maka apa yang salah dengan kata “La ilahailallah” – Tidak ada Tuhan Selain Allah untuk orang yang menurut anda beragama hindu? yang justru menurut saya mereka adalah seorang ahli kitab, kasta Brahmana ataupun Satria dalam masyarakatnya.

Bukan hanya Gajah Mada

Jika metode diatas bisa dipergunakan, maka anda akan bertanya lalu bagaimana dengan Jepang? Hipotesis saya, jepang mendapat risalah Musa, hal ini masih bisa disaksikan dengan budaya harakiri nya, dan kepercayaannya kepada api dan matahari.

Bunuh diri adalah syariat yang diperintahkan kepada bani Israel sebagai taubat mereka atas dosa, yang ini juga dituliskan dalam Al-Quran selain di Old Testament, Api adalah persaksian nabi Musa mendapat risalah seperti yang tertulis dalam surat Thaha, yang disikapi sama oleh Zoroastrian, dan Matahari adalah obyek yang salah disembah dalam cerita kaum selain bani Israel pada zaman Firaun dan Musa.

Psudo-History

Sebagai orang minang, anda sudah biasa mendengar cerita khabar tentang keturunan Iskandar Zulkarnain, yang beranak tiga, satu ke arah China, satu ke arah Rusia Jepang Korea, satu ke arah Asia Tenggara.

Jangan besar kepala dulu, kalau anda sudah biasa, bagaimana jika saya sampaikan semua kerajaan di asia tenggara (apalagi kerajaan yang menyatakan sebagai kerajaan islam) juga memiliki bahkan mengklaim cerita galur sejarah yang sama, saya terbaca hal ini (tentang sejarah kerajaan-kerajaan melayu dan jawa) di naskah-naskah kuno di Perpustakaan Gajah Mada ketika kuliah dahulu.

Dalam kitab yang lain Bidayah wa Nihayah, Ibn Katsir menyampaikan Iskandar Zulkarnain adalah hamba allah yang diberi kekuasaan dari timur hingga barat, hidup pada zaman Nabi Ibrahim, yang artinya beliau adalah pemeluk millah ibrahim.

Jika kita gabungkan narasi-narasi diatas, maka kerajaan-kerajaan melayu jawa kuno adalah keturunan Iskandar Zulkarnain, pembawa millah Ibrahim. Jika benar! maka tidak heran pendeta mereka disebut kasta Brahma, dan yang sosok yang didewakan oleh mereka adalah Brahma (Ibrahim), fenomena ini seperti yang disebut dalam Al-Quran dan hadits, kaum-kaum terdahulu menjadikan rasul-rasul mereka dan orang-orang shaleh sebagai pujaan yang baru.

Ahli Kitab & Ibrah

Di tahun terakhir ini saya mempunyai kawan seorang preacher, seorang ahli kitab. Karena sebelumnya dia bertanya-tanya kepada saya (mungkin ngetes 🙂 saya), dan sering juga setelahnya saya bertanya tentang beberapa hal, seperti ketika disebut kewajiban berpuasa seperti pada kaum sebelum kalian (muslim) puasa yang seperti apa (apakah pernah terbaca oleh dia perintah tentang kewajiban puasa, bukan puasa yang pengen atau sunnah), atau hadits tentang kisah satu malam seperti seribu bulan yang dikisahkan ibadah seribu bulan yang dilakukan nabi samson bisa didapatkan dalam satu malam yakni lailatul qadr (adakah kisah tentang satu malam seperti seribu bulan disebutkan dalam kitab dia) dsb. Jika anda berdiskusi dengan Ahli Kitab (sengaja atau tidak sengaja), akan ada ditemukan banyak term yang sama, yang syariatnya bisa jadi berbeda (diupdate oleh risalah Muhamamad saw), seperti haram alkohol, paha depan sapi yang diharamkan untuk yahudi, dsb.

Membaca, terus membaca, karena anda tidak tahu berita sepenggal yang tidak berharga yang dahulu anda baca bisa saling memperkuat satu sama lain, dan apa yang sebenarnya anda cari-cari itulah yang akan anda dapatkan, apakah anda ingin membenarkan Islam ataukah mempertanyakan Islam, itu semua bergantung pada niat masing-masing kita.

Sesuai dengan hadits: Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. … Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Wallahu’alam