Heritage

Bara Imambara, Warisan Arsitektur Mughal

28 June 2017



Lucknow, ibu kota negara bagian India Utara, Uttar Pradesh. Kota yang menjadi tempat tinggal para nawab atau wakil para sultan setelah Dinasti Mughal runtuh. Dengan posisi politis ini, tak heran jika Uttar Pradesh menjadi tempat bagi berbagai bangunan bersejarah era Islam abad pertengahan. Salah satu ikon pentingnya adalah kompleks Bara Imambara atau dikenal juga Asafi Imambara. Bangunan monumental ini diinisiasi oleh nawab keempat negara bagian Awadh, Asaf ud Daulah, pada 1785.

Setelah kekuasaan Mughal India menyusut pada 1732, beberapa negara bagian di bawah kekuasaan Mughal membentuk negara-negara kecil yang dikuasai nawab. Para nawab ini bertindak sebagai perwakilan penguasa di daerah itu sebelum jatuh ke tangan penjajah Inggris pada awal abad ke-19. Kompleks Bara Imambara merupakan salah satu proyek pembangunan terbesar dengan arsitektur yang berbeda.

Kompleks ini dibangun Nawab Asaf Ud Daulah sebagai proyek pemerintah setempat untuk membantu kemiskinan dan kelaparan, dengan menggalakkan beberapa proyek pembangunan monumental yang melibatkan banyak warga masyarakat. Demi proyek kemiskinan tersebut, Nawab Asaf ud Daulah diperkirakan menghabiskan biaya lebih dari satu juta rupee.

Bahkan setelah selesai, nawab kembali menghabiskan empat sampai lima ratus ribu rupee per tahun untuk menyempurnakan dekorasinya. Arsitek kompleks bangunan ini bernama Hafiz Kifayat Ullah, arsitek yang dikenal memiliki hubungan kerabat dengan perancang Taj Mahal di Agra. Ia membutuhkan waktu 14 tahun untuk menyelesaikan keseluruhan kompleks Bara Imambara.

Cerita Seram Labirin Imam Imambara

Kompleks Bara Imambara terdiri atas empat bangunan penting, yakni Bara Imambara atau Asfi Imambara, Rumi Darwaza atau benteng dengan dua gerbang masuk kompleks, Masjid Asifi, dan Shahi Baoli atau sumur tempat pemandian raja. Secara keseluruhan, gaya arsitektur Bara Imambara merupakan perpaduan apik antara arsitektur Mughal Islam, Rajpur Hindu, dan Gothik Eropa.

Seluruh bangunan terbuat dari batu bata dan plester kapur tanpa unsur- unsur kayu dan logam pada setiap bangunan pada awal didirikannya. Akses masuk kompleks melalui dua gerbang Rumi Darwaza yang mengarah ke sebuah halaman besar. Nama Rumi ini diambil dari kata “Roma”, mengenang kehebatan Turki Utsmani menaklukkan Kota Konstantinopel, ibu kota Romawi Timur, menjadi Istanbul.

Memasuki area kompleks akan dijumpai dua bangunan lain, Masjid Asifi di sisi kanan dan bangunan sumur Shahi Bawali di sisi kiri. Sedangkan di bagian depan akan dijumpai bangunan monumen utama Bara Imambara. Tentu saja Bara Imambara memiliki bentuk dan konstruksi paling menonjol. Masyarakat setempat menyebut bangunan ini bhulbhulaya atau bangunan labirin.

Hal itu dikarenakan banyaknya lorong-lorong dan ruang-ruang yang saling berhubungan seperti labirin. Ada lebih dari 1.000 bagian lorong labirin pada bangunan ini, sebagian lorong berakhir buntu, sementara lainnya berakhir pada pintu masuk atau pintu keluar. Dan juga terdapat delapan ruang berbeda di setiap tingkat dengan 489 pintu yang saling terhubung dan serupa satu sama lain. Ini belum termasuk sejumlah susunan tangga yang naik atau turun, serta balkon.

Lorong labirin ini dinilai cukup berbahaya bagi para pengunjung. Karenanya, pengelola bangunan menganjurkan adanya pemandu bila ingin memasuki bangunan ini. Bahkan, ada cerita lain terkait beberapa lorong hingga menuju terowongan di bagian bawah tanah yang sengaja ditutup karena sangat panjang hingga sampai ke Sungai Gomti dan Kota Delhi. Hal unik lainnya adalah ruang aula utama Bara Imambara yang diperkirakan sebagai ruang dengan atap melengkung terbesar di dunia.

Luas ruang aula ini memiliki panjang 50 meter dan ketinggian langit-langit hingga 15 meter. Dengan ketinggian dan panjang ruangan tersebut, aula ini tidak memiliki balok atau kolom pilar penyangga yang menopang langit-langit ruang atap melengkung aula utama. Salah satu yang membuat konstruksi ruangan ini unik adalah batu bata yang disusun secara terikat satu sama lain sehingga mampu menopang atap dan langit-langit secara stabil walaupun tanpa tiang penyangga.

Selain itu, terdapat tangga menuju ke bagian paling atas bangunan Bara Imambara. Dari titik inilah, kita bisa melihat pemandangan indah kompleks ini. Dari atas bangunan Bara Imambara juga terlihat Sungai Gomti dan beberapa bangunan bersejarah era nawab lainnya di Lucknow, seperti menara jam, Masjid Laxman Tila, dan bangunan yang tidak kalah indahnya, Chota Imambara, yang juga peninggalan nawab di Lucknow. (Republika)