Ummah

Menelusuri Jejak Budak Muslim di Amerika

12 July 2017



Perbudakan adalah hal lumrah pada abad ke-18, termasuk di Amerika. Sebagian besar budak di sana berasal dari Afrika. Pria, perempuan hingga anak-anak menjadi objek perbudakan.

Ada yang karena terpaksa, lebih banyak lagi yang dipaksa. Mereka dicabut dari akar tempat tinggalnya dan diseret dalam dunia tak berkebebasan.

J.D. Fage dalam penelitiannya soal perbudakan dan jual beli budak di Afrika mengatakan perdagangan manusia terbesar terjadi di abad ini. Mereka diangkut dengan kapal-kapal untuk dibawa ke tanah Amerika.

“Hampir tujuh juta warga Afrika mengarungi perjalanan ini,” kata Fage, dalam hasil penelitiannya yang dipublikasikan dalam Jurnal Sejarah Afrika. Tulisan lain dari Thomas A tetang Islam di Amerika menyebut kaitannya dengan Muslim.

Ia mengatakan diperkirakan 30 persen dari jutaan budak Afrika tersebut adalah komunitas Muslim. Amerika Utara menjadi tujuan sebagian besar dari mereka.

Untuk lebih mengerti sejarah budak Afrika Muslim di Amerika tersebut, maka perlu pemahaman tentang bagaimana orang-orang Afrika menjadi seorang Muslim. Bagaimana Islam bisa dianut oleh orang-orang Afrika.

Sejarah Islam di Afrika berkaitan dengan perdagangan. Islam dibawa oleh pedagang dari Timur Tengah pertama kali sekitar abad ke-10. Para pedagang Muslim menetap dan membaur. Nilai-nilai Islam meresap dengan perlahan dan damai.

Islam dibawa ke seluruh penjuru Afrika bersama dengan perdagangan. Melalui Gurun Sahara hingga sampai di Afrika Barat. Awal abad 13, Kerajaan Ghana telah menjadi rekan perdagangan utama komunitas pedagang Muslim.

Hingga 500 tahun setelahnya, budaya dan kepercayaan melebur. Banyak orang Afrika masuk Islam karena menjalani bisnis dengan Muslim. Rantai mualaf terus bertambah hingga penyebar Islam pun berasal dari kalangan Afrika sendiri.

Penyerapan nilai-nilai Islam berjalan dengan mulus dalam tradisi Afrika. Hingga pada abad 18 saat puncak perdagangan budak, komunitas Muslim Afrika ikut terseret ke dalamnya.

Terjebak dalam Perbudakan

Di seluruh Afrika, para tahanan perang dijadikan budak. Ada juga karena terbelit hutang atau melakukan satu kejahatan. Perbudakan ini awalnya muncul dalam skala kecil. Mereka jadi budak untuk orang-orang di tanah sendiri.

Namun kemudian permintaan budak datang dari Eropa dan Amerika. Hingga operasi pengadaan budak pun semakin digencarkan, sering kali dengan cara tidak manusiawi. Orang-orang tak berdaya diculik, diancam dan dipaksa untuk diperdagangkan.

Orang-orang Eropa mencari budak untuk dipekerjakan di tanah-tanah mereka di pulau Karibia. Begitu juga dengan orang-orang Amerika. Mereka butuh buruh murah dalam skala besar untuk membantu perkembangan negara.

Bagi sebagian besar Muslim yang terseret perbudakan ini, mempertahankan agama adalah sesuatu yang sulit. Mereka tidak bisa beribadah dan tidak diperkenankan menjalankannya.

Sering kali mereka dipaksa berpindah keyakinan. Segala macam bentuk keIslaman, mulai dari cara berpakaian hingga nama diganti dengan paksa. Jejak-jejak Islam hampir saja hilang dari identitas mereka.

Nathan W. Murphy dalam tulisannya tahun 2013 tentang asal usul Muslim Afrika-Amerika mengatakan meski upaya itu gencar, tetap ada bukti yang berbicara. Asal usul Islam dalam sejarah Afrika dan Amerika tetap terdokumentasikan.

Seperti adanya tulisan tangan ayat Alquran dalam buku milik budak Afrika. Buku ini menunjukkan betapa tinggi pendidikan si penulis sebelum ia terseret perdagangan manusia. Selain itu, ada banyak nama-nama Islam dalam daftar orang hilang di Amerika saat itu.

Pada 1984, Dr. Allan D. Austin mempublikasikan buku berjudul African Muslims in Antebellum America: A Sourcebook. Buku itu berisi foto-foto, dokumen, peta hingga tulisan. Bukti bahwa Muslim Afrika terjebak dalam perdagangan budak tahun 1730 hingga 1860.

Buku ini diperbarui pada 1997 dengan judul African Muslims in Antebellum America: Transatlantic Stories and Spiritual Struggles. Khazanahnya diperkaya dengan biografi singkat dan kesaksian budak Muslim di Amerika.

Para Terpelajar

Sejumlah kisah yang terdokumentasikan telah membuktikan bahwa Muslim Afrika terseret dalam perdagangan budak ke Amerika pada abad 18. Beberapa kisahnya tercatat dalam buku berjudul African Muslims in Antebellum America: Transatlantic Stories and Spiritual Struggles.

Salah satunya menceritakan kisah Ayub Ben Solomon. Ia lahir sebagai Ayyub ibn Sulayman ibn Ibrahim sekitar tahun 1702 di tempat yang sekarang menjadi Senegal. Dia berasal dari keluarga ilmuwan agama.

Pada usia 15 tahun ia sudah menjadi seorang imam bersama ayahnya. Saat melakukan ekspedisi perdagangan, Ayub ditangkap di wilayah musuh dan dijual pada orang Inggris. Dia kemudian dijual lagi untuk bekerja di ladang tembakau Maryland.

Dia tidak masuk agama Kristen meski dipaksa. Ia berdoa secara terang-terangan dan mengikuti panduan Islam. Ayub sempat lari dari perkebunan tempatnya diperbudak hanya untuk ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Ia kemudian dikembalikan ke tuannya.

Dalam kesedihan ia menulis sepucuk surat kepada ayahnya dan surat ini ditemukan oleh seorang dermawan Inggris bernama James Oglethorpe. Pria ini membantu membebaskan Ayub yang kemudian memulai perjalanan pulang melalui Inggris.

Dalam perjalanan kapal ke Inggris Job diajarkan menulis bahasa Inggris. Ia juga menulis ayat-ayat Alquran berdasarkan hafalannya. Menurut sejumlah laporan, ia membantu terjemahan George Sale yang terkenal itu.

Setelah lepas dari rantai perbudakan, dia aktif menyeru masyarakat untuk mengenal Islam dengan menolak klaim mereka tentang ketuhanan Yesus. Ia juga terpilih menjadi anggota Spalding Gentlemen’s Society, yang telah menempatkannya di perusahaan Sir Isaac Newton dan Alexander Pope.

Selain kisah Ayub, ada juga kisah tentang Yarrow Mamout yang diwariskan melalui percakapan yang dia miliki dengan seniman yang melukis potretnya. Hidupnya di Afrika tidak diketahui namun karena perilaku baik dan santunnya, dia dibebaskan setelah meletakkan batu bata untuk rumah tuannya.

Sebagai orang bebas ia membeli rumahnya sendiri di Georgetown dan dikenal karena berdoa di jalanan dan demi ketenangannya.

Pada bulan Desember 1807, ada juga kisah seorang pria bernama S’Quash dibawa ke South Carolina. Dia dikenal sebagai penunggang kuda yang hebat dan terpelajar berbahasa Arab. Sejarawan merujuk pada pernikahannya dengan seorang budak Muslim dari Sudan untuk menunjukkan bahwa dia juga seorang Muslim. (Republika)