Kolom

Pendidikan Kita Perlu Sektor Produksi Riil

15 July 2017



Arif Abdullah A Mentor on Worldclass Ummah | Birmingham, UK

Di awal semester ini kita akan coba memulai analisa kembali terhadap sektor pendidikan, sektor yang paling penting untuk terus-menerus di kembangkan, baik dari materi pengajaran, proses belajar, termasuk kemudahan akses oleh masyarakat dan juga pencapaiannya secara nasional, termasuk didalamnya efeknya terhadap sustainable development kita.

Di maraknya beasiswa LPDP, dan tingginya animo untuk sekolah ke luar negeri, perlu kita cermati kembali bagaimana animo ini bisa mempengaruhi animo kuliah di dalam negeri, apakah insentif, hingga biaya hidup yang terlalu pas-pasan juga turut mempengaruhi hal tersebut, tentu perlu di tinjau mendetail.

Dalam data forlap RISTEKDIKTI dapat kita lihat distribusi program studi nasional, walaupun pemaparan program studi nya pun perlu di kritisi, karena kurang apple to apple. Distribusi program studi nasional sudah sangat baik jika mengacu kepada kesimpulan yang ingin kami arahkan.

Dari keseluruhan program studi, apakah sudah terbayang di benak kita, program studi yang memiliki pengaruh besar terhadap produksi riil, selintas kita akan mulai mengklasifikasikan Ekonomi dan Pertanian, kemudian diikuti oleh Teknik. Sedangkan pilihan pertama di versi kami jatuh kepada Teknik, Pertanian dan Ekonomi.

Di kota-kota besar, yang juga memiliki universitas-universitas yang mapan dan reputasi baik, kita bisa melihat bagaimana distribusi program studi juga memiliki kemiripan dengan nasional, artinya sektor riil produksi, perbaikan dan inovasi teknis memiliki proporsi yang cukup tinggi.

Namun di masa mendekati 20 tahun sejak reformasi, dan otonomi daerah, kita bisa lihat distribusi di daerah yang memiliki kemampuan produktifitas rendah, juga di pasok oleh sumberdaya manusia yang minim dalam sektor produksi riil, data saya paparkan dari dua propinsi di barat (sumatera barat) dan timur (papua).

Jika kita melihat baik di media, BPS dan banyak data lainnya, ada dua kota yang menarik di tinjau, yakni Surabaya (Jawa Timur) dan Bandung (Jawa Barat) yang perkembangan inovasi aplikatif dalam manajemen kota sangat-sangat luar biasa. Sedangkan di daerah-daerah lain, hal tersebut sangat minim, jangankan untuk ke arah inovasi aplikatif, kita bisa lihat bagaimana website-website pemda dan universitas sangat-sangat standar dan basic, mungkin kita mengeluarkan biaya yang sama, tapi kemampuan akan sumberdaya yang terbatas akan menjadikan inovasi kita dalam sektor produksi riil  juga terbatas.

Selain menjaga kualitas untuk range daerah dan universitas yang sudah mapan, ada baiknya kita juga perlu menjaga pertumbuhan pendidikan atau universitas ini tetap ke arah positif. Pemerataan yang diupayakan pemerintah juga dapat tertolong oleh pemerataan sumberdaya yang fresh graduate, belum memiliki demand (gaji) tinggi terhadap kualifikasinya, dan tercapainya yang sama-sama kita inginkan, yakni pemerataan dan pertumbuhan yang keberlanjutan.