Kolom

Uji Coba Pesawat Tanpa Awak “Alap-Alap” BPPT

16 July 2017



Ristek Dikti Ristek Dikti Kolom Opini Ristek Dikti

Oleh : DR. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng.

INDONEWS.ID – Setingkat lebih tinggi para Peneliti dan Perekayasa yang tergabung dalam Konsorsium Inovasi Pesawat Tanpa Awak BPPT telah membuktikan keberhasilan membuat pesawat tanpa awak canggih. Pesawat tersebut dirancang untuk tugas-tugas  pemantauan dan eksekusi khusus sesuai dengan program dan perintah yang diberikan kepadanya. Keberhasilan itu juga sekaligus membuktikan bahwa kemampuan para peneliti dan perekayasan Indonesia telah melampaui bangsa maju, sehingga mereka tidak bisa lagi dipandang remeh seperti anggapan umum sementara pengamat dewasa ini.

Sabtu 15 Juli 2017, mereka telah mematrikan kemampuan unggul di udara Cirebon yang cerah yaitu dengan sukses menerbangkan sebuah pesawat tanpa awak berbahan bakar pertamax dengan gaya dorong 3 HP, mampu menjangkau radius lebih dari 100 km. Dengan suksesnya uji coba di lapangan yang riil ini maka teknologi pesawat tanpa awak itu dianggap telah selesai terekayasa di Laboratorium, yaitu telah mencapai tingkat kesiapan teknologi (TKT-TRL) Level 8 (delapan) yang berarti setingkat lagi akan mencapai sempurna yaitu ketika hasil inovasi para peneliti brilian itu mendapatkan Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT-TRL) level 9 (sembilan) atau mendapatkan sertifikasi layak terbang dari pemerintah. Acungan jempol dari berbagai pihak membuktikan bahwa kebanggaan memiliki hasil inovasi yang diciptakan secara mandiri oleh anak bangsa telah mendapatkan apresiasi yang tinggi. Ini menegaskan bahwa kemandirian di bidang teknologi itu sangat diharapkan oleh pegioat dan pelaku iptek dinegeri ini, seperti dikatakanSoekarno :” Barang Siapa Ingin Mutiara, harus berani terjun di lautan yang Dalam”.

Rasanya tidak terlalu banyak waktu untuk menjelaskan fenomena ini dengan menggunakan teori inovasi karena yang sebenarnya tersurat dalam naskah akademis yang sangat normative belum tentu dapat diimplementasikan kedalam tataran praktis di lapangan, kenapa? Karena paling tidak harus mengetahui kondisi spesifik lapangan tempat untuk uji coba pesawat. Namun secara sederhana dapat dipahami bahwa tingkat kesiapan teknologi berbeda dengan tingkat kesiapan inovasi (TKIn-IRL). Teknologi sebagai total factor productivity (TFP) merupakan salah satu unsur penting Inovasi selain market, organisasi, partnership dan manajemen risiko. Keselarasan teknologi dengan kebutuhan masyarakat, risiko, organisasi yang mengawal teknologi hingga sampai pasar diuji dengan tingkat kesiapan inovasi ini. Tidak sedikit hasil penelitian yang diciptakan oleh para peneliti dan perekayasa berakhir dengan mangkrak karena tidak lolos dalam uji tingkat kesiapan inovasi. Sebuah “Lembah Kematian” atau sering disebut “Valley of Death” menghadang hasil karya cipta peneliti perekayasa manakala tidak dirancang secara komprehensif diawal penelitian baik dilihat dari espek teknologi maupun social dan ekonomi.

Teknologi yang diciptakan semestinya mampu menembus pasar dunia. Pasar berskala dunia yang terbuka bagi seluruh pelaku usaha mengalami perkembangan yang pesat belakangan ini karena beberapa faktor, antara lain adanya beberapa negara industri yang mampu menghasilkan produk berkualitas dengan harga murah, misalnya China dan Taiwan, semakin banyak orang yang melakukan perjalanan antar negara, semakin banyaknya transportasi antar negara yang mempermudah distribusi produk perdagangan dunia semakin meningkat. Mengantisipasi kendala yang timbul akibat pasar global ini terutama antara lain perbedaan busaya dan selera, perbedaan saya beli, serta peraturan internasional yang membelenggu perlu diantisipasi secara cermat.

Perlunya membangun Organisasi pemasaran Global. Semakin lama semakin banyak khalayak berpendapat bahwa perusahaan-perusahaan membutuhkan konsep segar mengenai cara mengorganisasikan bisnis dan pemasaran sebagai tanggapan terhadap berbagai perubahan signifikan yang terjadi didunia usaha belakangan ini. Berbagai kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi mengakibatkan semakin meningkatnya bisnis dan persaingan global, hal ini mengharuskan perusahaan-perusahaan untuk mempertimbangkan kembali cara pengorganisasian bisnis mereka. Pasar lintas batas negara memberikan berbagai peluang untuk tumbuh dan berkembang. Untuk memanfaatkan peluang tersebut, pemasar internasional merumuskan berbagai strategi agar dapat dan sesuai dengan berbagai pasar yang ada dan juga agar dapat berhasil bersaing di pasar tersebut. Sebuah persyaratan dasar untuk menetapkan strategi secara efektif adalah adanya struktur organisasi yang tepat. Etika entrepreneur memulai bisnis, ia harus menyusun organisasi yang akan dikelolanya. Organisasi merupakan kumpulan orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu, betapa pentingnya pengorganisasian ini terhadap suatu bisnis dalam pemasaran. Berikut ini akan dibahas tentang pengorganisasian pemasaran global agar dapat bersaing dalam dunia internasional.

Dalam membangun bisnis perlu dibangun partnership yang kuat, perusahaan start-up tidak akan bisa menghindari kebutuhan untuk beriklan atau marketing, yang seringkali bisa jadi beban yang cukup besar. Dengan strategi partnership yang tepat, tujuan bisa tercapai dengan efektif dan efisien.

Dilansir dari entrepreneur.com, entah perusahaan ber tipe business to business (B2B) atau business to consumer (B2C), ada tiga jenis partnership yang bisa dipertimbangkan, yaitu :

Awareness Partnership. Tujuan dari awareness partnership ini adalah untuk meningkatkan visibilitas dan pengenalan untuk nama brandperusahaan. Partnership ini mungkin tidak akan langsung meningkatkan penjualan, tapi saat makin banyak orang tahu nama perusahaan ini, mereka akan mulai mempertimbangkan brand perusahaan untuk kebutuhan mereka. Yang harus diingat dari partnership adalah pesan harus jelas dan merefleksikan personality brand perusahaan, selain fungsi dan manfaatnya bagi calon konsumen. Perhatikan juga apakah partnership tersebut sejalan dengan target market atau tidak.

Brand Partnership adalah partnership yang sangat penting untuk meningkatkan brand image dan brand affinity dan meningkatkan legitimasi brand perusahaan. Jika dilakukan dengan benar, brand partnership bisa membawagrowth dan revenue untuk bisnis ini.

Functional partnership. Partnership jenis ini bisa meningkatkan fungsionalitas produk yang ditawarkan kepada konsumen. Dengan partnership jenis ini, kedua brand akan bisa mengoptimalkan fungsi produknya, dan memberi kepuasan lebih untuk pengguna.

Seringkali, functional partnership menghasilkan ROI yang besar tapi lebih banyak menguntungkan junior brand. Kedua brand yang berpartner juga membutuhkan banyak dedikasi untuk kerja sama start-up ini.

Sebagai perusahaan start-up, mencari partner adalah hal yang gampang-gampang susah, tapi bila bisa mengeksekusinya dengan benar, partnership akan bisa membawa start-up perusahaan ke level yang dituju secara cepat.

Manajemen Risiko dilakukan karena risiko bisa terjadi dimana-mana, bisa datang kapan saja, dan sulit dihindari. Jika risiko tersebut menimpa suatu organisasi, maka organisasi tersebut bisa mengalami kerugian yang signifikan. Dalam beberapa situasi, risiko tersebut bisa mengakibatkan kehancuran organisasi tersebut.

Melalui identifikasi risiko, kita bisa mengenali risiko yang relevan yang kita hadapi. Kemudian kita mempelajari risiko tersebut dengan melakukan evaluasi dan pengukuran risiko. Setelah kita memperoleh pemahaman yang baik mengenai risiko tersebut, kita bisa mengelola risiko tersebut lebih baik. Manajemen risiko penting dipelajari, karena banyak contoh kerugian yang dialami oleh organisasi karena kegagalannya mengelola risiko, Bahkan beberapa organisasi mengalami kerugian yang signifikan, bahkan kebangkrutan, karena organisasi tersebut ‘gagal’ mengelola risiko.

Manajemen risiko bertujuan untuk mengelola risiko tersebut sehingga kita bisa memperoleh hasil yang paling optimal. Karena itu risiko yang dihadapi oleh organisasi tersebut juga harus dikelola, agar organisasi bisa bertahan dengan baik. Perusahaan sering kali secara sengaja mengambil risiko tertentu, karena melihat potensi keuntungan dibalik risiko tersebut. Proses manajemen dilakukan melalui tahapan-tahapan: a) Identifikasi risiko, b) Evaluasi dan pengukuran risiko, dan c) Pengelolaan risiko.

Risiko muncul karena kondisi ketidakpastian. Risiko bisa dikelompokkan dengan berbagai kategori, seperti risiko bisnis dan risiko spekulatif, risiko objektif dan risiko subjektif, risiko dinamis dan statis. Setelah melakukan pengelompokan semacam itu, diharapkan kita bisa mempelajari karakteristik risiko lebih baik dan diharapkan kita bisa mengelola risiko.  Mengenali sesuatu dengan baik merupakan kunci untuk mengendalikan atau menaklukkan sesuatu tersebut.

Solusi mensiasati ancaman globalisasi

Hasil penelitian dan perekayasaan sebuah produk yang telah melewati uji tingkat kesiapan teknologi belum tentu bisa masuk ke pasar dengan mudah karena kedepan masih perlu strategi bagaimana produk teknologi itu mampu melompati lembah kematian (Valley of Death) antara lain melalui perbaikan organisasi pemasaran, penguatan partnership, manajemen risiko dan perluasan pasar. Dunia sudah memasuki industri generasi keempat, merupakan industri berkarakterboarderless sudah tidak mengenal batas-batas negara, maka perlu strategi yang lebih baik antara lain pemanfaatan teknologi ICT dan Smart technology. Dan BPPT telah membuktikan kepada Bangsa akan hal itu….

Walahualam….

Penulis adalah Dosen Universitas Negeri Yogyakarta, Staf Ahli Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia