Sains & Teknologi

BPPT Dorong Penggunaan Obat Herbal Terstandar

18 July 2017



al yang penting adalah ketika kita mengembangkan vaksin dan obat, dan itu perlu waktu yang lama, kestabilan antara produk teknologi terstandarisasi perlu adanya fasilitas laboratorium yang terstandar, ini sangat minim di Indonesia, demikian kata Deputi BPPT Bidang TAB Eniya Listiani Dewi saat jumpa pers di hari ke dua Kongres Teknologi Nasional 2017, di BPPT (18/07).

Faktor yang terpenting menurut Eniya adalah, belum adanya kewajiban seorang dokter untuk memilih obat herbal terstandar atau tingkatannya sama dengan obat kimia yaitu namanya fitofarmaka.

Dokter belum punya kewajiban itu, saya harap semua rumah sakit dan dokter melirik fitofarmaka dan meresepkannya. Eniya menambahkan, ada sembilan fitofarmaka di Indonesia yang paling banyak dimiliki oleh Biofarma.

Ini salah satu upaya mendorong hasil-hasil dalam negeri untuk dipakai di negeri sendiri, harus ada regulasi dan juga sertifikasi, terang Eniya.

Eniya menambahkan, industri juga ingin dilibatkan lebih awal lagi, mereka siap untuk bersinergi tidak hanya menampung produk yang sudah jadi, karena faktor obat sangat krusial.

Terakhir, Eniya menyampaikan, bagaimana industri bisa mendapatkan keuntungan marjin yang lebih besar. Saya mengusulkan BPPT bisa mendesain multipurpose produk, ini satu industri pati yang saya usulkan semoga tahun depan kita bisa langsung realisasi.

Karena harga singkong di Indonesia sangat rendah sekali, ini bisa menjadi pangan dan menjadi bahan baku obat, lebih jauh lagi bisa menjadi bahan bakar yaitu bioethanol tapi kita akan mengarah ke farmasi itu jauh lebih ekonomis, tutup Eniya. (BPPT)