Heritage

Keturunan Morisco Jaga Identitas Islam

07 September 2016



JAKARTA — Menyadari cara tersebut tak berhasil, pejabat gereja, Francisco Jimenez de Cisernor pada akhir 1400-an diutus kerajaan ke selatan Spanyol untuk mempercepat perpindahan Muslim dari Islam. Jimenez, dengan metodenya yang kejam, menyiksa dan menekan.

Tidak hanya itu, manuskrip-manuskrip pengetahuan berbahasa arab dibakar—kecuali tentang medis. Mereka yang menolak berpindah agama, tanpa peradilan langsung dijebloskan ke penjara. Tanah, harta mereka, semua disita. Semua dilakukan hanya untuk satu tujuan; memaksa mereka meninggalkan Islam.

Akan tetapi Muslim Andalusia begitu teguh dengan keyakinan mereka. Paksaan dan siksaan yang dihadapi mendorong mereka melakukan pemberontakan, secara terbuka menentang tirani Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Dengan pilihan berpindah atau mati, Muslim yang tersisa di Spanyol tersebut melawan, mereka melarikan diri ke Pegunungan Alpujaras, menyulitkan tentara kerajaan datang memaksa mereka.

Tanpa pemimpin pun, Muslim Andalusia dapat bersatu untuk melawan tekanan yang dihadapkan pada mereka. Walau tak memiliki persenjataan selengkap tentara Kerajaan, Muslim tetap berani melawan, dan tak jarang kematian yang menjemput mereka—alih-alih menerima berpindah ke agama yang tak mereka yakini.

Hingga tahun 1502, pemberontakan tersebut menyulut kemurkaan Ratu Isabella. Ia memerintahkan memberikan pilihan pada Muslim; secara resmi menjadi Kristiani, meninggalkan tanah Iberia, atau mati. Kebanyakan Muslim pun pergi ke Afrika Utara atau Kekaisaran Ottoman. Beberapa tetap di Spanyol, menutupi identitas Muslim mereka.

Sejak 1502, populasi Muslim yang tersisa di Spanyol—disebut Morisco—menyembunyikan diri, menutupi praktik keagamaan. Orang-orang Morisco secara jelas ditentang keberadaannya oleh kerajaan. Mereka yang diketahui keberadaannya dipaksa untuk tetap membuka pintu rumah agar para tentara dapat memastikan mereka tidak bersuci, sehingga tak dapat beribadah. Tekanan luar biasa itu tetapi mampu dijalani orang-orang Morisco dalam mempertahankan Islam mereka.

Sayangnya, seperti pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat, kelak akan jatuh juga. Orang-orang Morisco yang begitu rapat menyembunyikan praktik ibadah, akhirnya tetap dicurigai oleh Raja Philip—raja Spanyol. Ia mengultimatum Muslim Spanyol dalam waktu tiga hari harus segera berkemas meninggalkan Spanyol, menaiki kapal menuju Afrika Utara.

Pada masa itu mereka terus diusik. Barang-barang mereka dijarah, bahkan mereka dikejar-kejar untuk dibunuh ketika dalam perjalanan menuju dermaga, menuju kapal yang akan membawa mereka jauh dari tanah kelahiran. Dalam kapal, siksaan tak kunjung henti melanda Muslim yang meninggalkan Iberia tersebut. Pemerintah Spanyol benar-benar memastikan hingga akhir, Muslim Iberia tersiksa.

Setibanya mereka di tanah yang baru, kebebasan pun mereka raih. Muslim-muslim Iberia yang tersisa itu akhirnya dapat beribadah dengan tenang.

Akan tetapi, masih ada rasa rindu dan kesedihan meninggalkan tanah kelahiran mereka di Spanyol. Kadang, ada yang berusaha menyelinap untuk kembali ke sana, tetapi kegagalan tak juga meninggalkan. Hingga 1614, Iberia akhirnya kosong tanpa Muslim. Drastis, dari 500 ribu penduduk, mencapai angka nol.

Ratusan tahun keturunan Muslim Iberia mencoba berasimilasi dengan masyarakat setempat di Afrika Utara, tetapi masih tampak gurat-gurat Andalusia yang mereka warisi. Kini, daerah penduduk di Afrika Utara membanggakan identitas mereka sebagai keturunan Morisco, mengingatkan kita tentang masa lalu penuh kejayaan Semenanjung Iberia, sekaligus kekejaman genosida terhadap Muslim di tanah Spanyol. (REPUBLIKA.CO.ID)