Ummah

tak pernah tersadar

Kita tak pernah tersadar, mekanisme keadilan bukanlah berdiri diatas keberpihakan, membela karena tersokong, dan bertanya seolah adakah yang patut dipertanyakan. Realita ini retoris bung, tak ada yang benar-benar mencoba memberikan sesuap nasi pada peminta-minta yang kelaparan, make-up tebal dengan gincu yang merah selalu mempesona, dan kau akan terlibas bila mencoba bertahan dalam laju pusaran yang deras.

Fatamorgana demi fatamorgana terus disuguhkan, data-data statistik menjadi referensi, kita berlari didunia yang semakin tua dengan berjalan mundur, politik tidak akan pernah kejam jika mereka yang menari diatasnya dengan anggur romansa mencoba tidak seperti nero ataupun caesar, atau sekedar seperti bapak tua yang terpuruk dimasa tuanya karena ulah anaknya.

Kemana dunia ini sedang berlari bung?

Keadilan-keadilan dihantam keras ke muka tembok yang fasih beranalogi dengan nama binatang merayap, akh… aku lupa bung, ternyata mereka juga berkaki. Semangat itu sudah tumpul bung, dari tahun yang kau dan kawan-kawanmu berjibaku menghambur ke atas rumah rakyat, kau kata rakyat telah menang, tapi hari semakin hari semua pihak tidak memiliki batasan, raja-raja kecil berdiri dengan kepala mendongak merajam semua yang dia lihat, ini hanya sebuah permainan klasik dimana pada jalan yang buntu, mereka mengorbankan keledai yang paling besar, yang mampu menghapuskan lapar dari zaman yang memojokkan mereka, dan berfikir setiap malamnya untuk membangun zaman yang baru, dengan santapan-santapan yang lebih mewah dari sebelumnya, berpacu menumpuk kekuasaan, dan lupa dengan apa yang diperingatkan tuhan sebelumnya.

Jangan pernah percaya pada kata-kata manis bung, hari siang ini, keadaan seperti mencekam, desing-desing peluru dipertontonkan tanpa pernah ada niat melewatinya ke meja hijau, mendapatkan teroris lebih penting dari pada menegakkan keadilan, atas nama wewenang ataupun hak yang dilontarkannya apalagi yang tersisa dari rasa aman yang diberikan kepada publik?

Ya bung, keadilan hanya akan bertahan dalam sebuah kertas kosong, terlipat dengan beberapa nominal tertera.

Politik terlalu serakah untuk duduk satu kursi dengan keadilan, setidaknya sore ini mereka terlihat seperti sebuah benalu yang bertengger di pohon mangga yang sedang ranum.

Resolusi

Kita tidak terbiasa dengan resolusi, tapi disaat informasi telah melewati batas-batas geografis, budaya menjadi sebuah cerminan sederhana bagaimana nilai-nilai dapat mudah diasimilasikan dalam hitungan detik, karena pada dasarnya budaya disusun oleh nilai-nilai dasar yang normatif, yang kita kenal dengan etika, sehingga pertemuan-pertemuan budaya justru lebih kepada upaya adaptasi pelaku untuk belajar memahami.

Politik Pagi Ini

Asa bergejolak, dengan sisa remah yang sama: ketidak puasan.

Di bumi yang menyuaratkan istilah musyawarah, perwakilan, pemimpin, aktualisasi ini hilang.

Yang ditinggikan seranting dan didahulukan selangkah,

Nan dimakan aluia jo patut

Terbeban sejarah dan menjadi bayang-bayang masih membuktikan satu kata,

Masih banyak yang harus dikerjakan kedepan

Tak perlu bermimpi jadi besar dengan seketika, dialektika itu dinamis, tak ada yang buruk, karena mimpi tak pernah sempurna.

Dia yang diwakilkan harus amanah, supaya sejarah tahu, negeri ini tidak diserahkan pada segelintir orang, tetapi pada segelintir banyak orang.

 

Kegelisahan Yang Mati Gaya

Hari ini, dua hari setelah pelantikan Presiden Republik Indonesia ke-7, Bapak Presiden Joko Widodo dan Bapak Wakil Presiden Jusuf Kalla, dimana kegelisahan mulai berjangkit, bukan karena rasa miris kekalahan tetapi gelisah karena ditelantarkan.

Ya gelisah yang mati gaya kawan, apapun sesumbarmu berbicara tentang celoteh derma yang kau berikan dan olehnya kau merasa dibiarkan tanpa cerita bersambung, kemudian kau mencari simpati ku untuk mencoba melihat kau dengan rasa kasihan, kau salah sikap kawan.

Kawan kita yang lain selalu berkata “tidak ada makan siang yang gratis bung”, dan patutnya kau pun mengerti itu, dunia harapan yang memiliki sisi kelam.

Mimpi-mimpi idealismu hanya bisa disampaikan oleh lawanmu satu periuk-bejana, dimana kau merasa terganggu oleh kehadirannya, kau terganggu dengan kehebatannya, sedikit iri dengan kedip mata, itu lah yang dikatakan – satu level dengan kepiawaianmu.

Sedangkan aku, masih dalam lubang yang sama, hanya mampu memberikan “hai” dengan “jempol” dalam telepon genggamku.

Esok, matahari masih bersinar, angkat kembali kepalamu, jangan biarkan dunia terlelap tanpa kehadiranmu, walau memang kegelisahanmu mati gaya.

Ide Perampingan Kabinet 2014-2019

Isi Kabinet Presiden Jokowi dan Wakil Presiden M. Jusuf Kalla:

1.  Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Tedjo Edhy Purdjiatno
2.  Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil
3.  Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani
4.  Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Susilo.
5.  Menteri Sekretaris Negara Pratikno
6.  Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo
7.  Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari
8.  Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu
9.  Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yassona H Laoly.
10  Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin
11. Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro
12. Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah Anis Baswedan
13. Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir.
14. Menteri Kesehatan Nila F Moeloek
15. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa
16. Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri
17. Menteri Perindustrian Saleh Husin
18. Menteri Perdagangan Rachmat Gobel
19. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said
20. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan M Basuki Hadimuljono
21. Menteri Perhubungan Ignasius Jonan
22. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara
23. Menteri Pertanian Amran Sulaiman
24. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya
25. Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti
26. Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal serta Transmigrasi Marwan Djafar
27. Menteri Pertanahan dan Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Ferry Mursyidan Baldan
28. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Andrinov Chaniago
29. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yudy Chrisnandi
30. Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno
31. Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga
32. Menteri Pariwisata Arief Yahya
33. Menteri Perberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise
34. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi

Jumlah kementrian 34, dengan 4 menteri koordinator dan 1 sekretaris negara.

Sebagai catatan awal, jangan dilihat siapa nama menterinya, tidak bermaksud langsung ataupun tidak langsung membahas hal tersebut, tetapi lebih mencoba “jika saya jadi presiden”.

  • pertimbangan pertama, saya tidak mengkritisi keberadaan menko dan sekretaris kabinet, sehingga jumlah kementerian tersisa 29.
  • sebelum menganalisis versi kementerian, saya sangat setuju mengapresiasi untuk perubahan struktur DIKNAS menjadi DIKDASMEN sehingga DIKTI bergabung dengan RISTEK, sehingga ristek bisa mengkoordinasikan BPPT dengan DIKTI, dimana akan bisa lebih tajam pengembangan riset strategis, dan keberadaan periset-riset handal bisa dimanfaatkan di dunia akademisi.
  1. Menteri Sekretaris Negara harus diperluas bukan hanya terkesan menjadi sekretaris kabinet, tetapi juga sebagai “policy sounding” ke semua pihak luar dan dalam negeri, digabung dengan kementerian luar negeri, menggunakan kerangka kementerian luar negeri. (-1)
  2. Menteri Dalam Negeri digabung dengan Menteri Sosial, menjadi Menteri Pembangunan Masyarakat dan Kesejahteraan Sosial. Perubahan paradigma, sebelumnya mengurus koordinasi pemerintah pusat dengan propinsi (hal itu diserahkan ke sekretaris negara, perluasan kewenangan). Kementerian ini berubah haluan kepada bagaimana upaya kebijakan yang mengarah langsung hak-hak obyek warga negara bukan institusi propinsi, dan kebijakan tentang kesejahteraan sosial, institusi sosial, dsb. (-1)
  3. Kementerian Luar Negeri diperluas menjadi Sekretaris Negara, sebagian bergabung dengan sekretaris negara, dan sebagian membentuk biro khusus dibawah sekretaris negara, urusan haji, perwakilan di UN, perwakilan OKI, dsb.
  4. Kementerian Hukum dan HAM dirubah paradigma kepada Keamanan Dalam Negeri, fokus pada KTP (legal status WNI), SIM, imigrasi, dsb. Karena isu legal harus diarahkan kepada permasalahan keamanan. Kemudian mengembalikan status Mahkamah Agung dan Jaksa Agung setingkat menteri non-politik.
  5. Menteri Agama, untuk hal ini saya setuju untuk dihapuskan, dan untuk urusan haji disiapkan Dubes Khusus untuk urusan Haji, dan urusan pengembangan keagamaan diserahkan kepada pemerintah provinsi, dan mengangkat status MUI sebagai institusi semi pemerintah non-politik setingkat menteri. (-1)
  6. Kementerian Komunikasi dan Informatika, memang perkembangan ICT menjadikan kita yang gagap teknologi merasa perlu berlomba dalam bidang ini, tetapi seiring berkembangan saya melihat ICT ini adalah teknologi yang sudah menjadi “basic”, sehingga menurut saya untuk urusan policy diserahkan ke sekretaris negara, sedangkan untuk urusan teknis dan administrasi diserahkan ke kementerian RISTEK. (-1)
  7. Kementerian Perikanan dan Kelautan, sama dengan komunikasi dan informatika, untuk teknis sebenarnya sudah ada BUMN maritim PAL, untuk riset maritim sangat banyak di RISTEK, dan untuk policy diserahkan kembali ke sekretaris negara. (-1)
  8. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, sebenarnya yang dibutuhkan adalah alokasi dana budget, yang aplikasi dilapangannya bisa diselesaikan oleh pemerintah propinsi, jadi policy dibuat di sekretaris negara, dan anggaran khusus di keuangan. (-1)
  9. Kementerian Pertanahan Nasional, dengan otonomi masalah pertanahan nasional lebih menjadi urusan lokal dari pada urusan nasional, sehingga lebih mengena jika tidak dalam bentuk kementerian cukup Badan/Biro dan non-politik, dan bisa diletakkan dibawah PAN untuk urusan-urusan kepentingan nasional ataupun situs cagar alam, dan bagus juga dipegang. (-1)
  10. Kementerian BUMN dan politik, indikasi yang sangat tidak baik, BUMN adalah aset strategis nasional, dan sudah berbentuk PT, artinya memiliki value di pasar yang bisa dilihat publik secara transparan, paska reformasi untuk menaungi BUMN strategis yang kehilangan induknya karena dibubarkan oleh MPR/DPR, harus dicermati kembali, untuk BUMN ini saya rasa lebih dibutuhkan satu badan non-politik dan benar-benar profesional swasta sekelas holding dimana sahamnya bisa dibuat publik offer sebagian ke masyarakat melalui jaringan perbankan nasional. (-1)
  11. Kementerian Pariwisata sebenarnya lebih berfungsi koordinasi, karena berkaitan dengan obyek lokal, hal ini lebih akan fungsional di pemerintah propinsi (penguatan lembaga otonomi daerah). (-1)
  12. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, jika mau dicermari jika berbicara tentang Tenaga Kerja kita terfokus pada buruh laki-laki, jika kita bicara pendidikan lebih tertuju pada anak, dan jika berbicara kesehatan secara umum kepada ibu mengandung dan anak, dan spesifik ke penyakit tertentu. Untuk kementerian ini saya lebih condong untuk perubahan paradigma dan fokus obyek pada kementerian kesehatan, sehingga kementerian bisa difungsikan bersama kementerian kesehatan. (-1)
  13. Kementerian Pemuda dan Olahraga, jika melihat polemik PSSI dan bagaimana larangan FIFA untuk menolak interferensi dari pemerintah, sebenarnya sudah dapat kita simpulkan bahwa olahraga lebih berkawan dengan bisnis komersial dibandingkan pemerintah, walaupun secara lokal kepemilikan aset bisa dibantu oleh pemerintah lokal. (-1)

Kesimpulan kementerian bisa dikurangi 11 pos, tetapi sekali lagi yang perlu diingat, kabinet adalah hak preogatif presiden, sehingga kita harus hormati, dan list ini biar saya simpan untuk bahan dikemudian hari.

Selamat bekerja Pak Presiden Jokowi dan Pak Wakil Presiden Jusuf Kalla.

MES UK paska transisi: diantara eksistensi dan perjuangan membumikan ekonomi Syari’ah

oleh Banjaran Surya Indrastomo*
Chief of Research Committee, PhD Student in Islamic Economic & Finance, Durham University

Semenjak berdirinya pada hari Senin, tanggal 1 Muharram 1422 H atau tanggal 26 Maret 2001, perwakilan Masyarakat Ekonomi Syariah UK telah mengalami beberapa kali pergantian kepengurusan. Pada awalnya, MES UK didirikan dan dideklarasikan atas prakarsa ’founding fathers’ seperti ekonom BI Bapak Rifki Ismal, ekonom senior Islamic Development bank Bapak Hylmun Izhar dan salah seorang direktur Bank Muamalat Indonesia kala itu, bapak Farouk Alwyni. Para pengurus MES UK di awal berdirinya organisasi perwakilan ini telah berjasa memperkenalkan dan mengaktualisasikan visi dan misi MES dalam memperkenalkan ekonomi syariah kepada masyarakat Indonesia yang berdomisili di Inggris raya. Melalui berbagai kegiatan seperti diskusi dan seminar dengan pembicara yang ahli di bidangnya, pengurus telah berhasil meningkatkan kesadaran dan menumbuhkan minat masyarakat Indonesia di Inggris raya terhadap konsep dan praktek dari ekonomi syariah. Salah satu kegiatan MES UK untuk meningkatkan kesadaran dan menumbuhkan minat masyarakat Indonesia di Inggris raya adalah menyelenggarakan seminar yang mengundang ahli ekonomi syariah dari universitas terkemuka di Inggris, seperti Professor Habib Ahmed yang merupakah Sharjah Chair in Islamic Finance di Durham University, dan Dr. Ugi Suharto yang merupakan salah satu tenaga ahli di Markfield Institute of Higher Education.

Setelah kepengurusan Rifki Ismal yang telah meletakkan fondasi awal organisasi perwakilan MES Indonesia di Inggris raya ini, kepengurusan MES UK memasuki babak baru dengan berpindahnya tongkat estafet kepemimpinan dari Rifki Ismal kepada Rahmatina Kasri. Pergantian kepemimpinan serta kepengurusan MES UK ini menjadi simbol awal keberhasilan proses regenerasi organisasi dalam dinamika yang berkembang di masyarakat. Rahmatina Kasri yang memiliki latar belakang sebagai tenaga pengajar dan peneliti di Universitas Indonesia, dan juga sebagai kandidat doktor di bidang ekonomi Islam di Durham University, merupakan sosok yang saat itu dianggap mampu untuk mengemban dan melanjutkan tugas sebagai ketua umum MES UK menggantikan Rifki Ismal.

Berbekal jaringan serta kemampuan organisasi yang sudah teruji, Rahmatina Kasri bergerak cepat dengan membentuk kepengurusan MES UK yang berisikan tenaga ahli di berbagai bidang dan individu-individul yang punya antusiasme tinggi terhadap misi MES UK dari berbagai latar belakang. Setelah melalui proses perekrutan yang berjalan dari Januari hingga Juni 2011, kepengurusan MES UK periode kepemimpinan kedua resmi terbentuk dengan susunan yang terdiri dari Ketua, Sekertaris, Bendahara, dan beberapa bidang yang meliputi Bagian Kajian, Bagian Kerjasama, dan Bagian Informasi dan Publikasi. Selain perangkat utama organisasi, MES UK juga didukung dewan penasehat dan dewan pakar yang diisi oleh tokoh-tokoh yang sangat berpengaruh seperti atase pendidikan KBRI London, Professor T. A Fauzi Soelaiman sebagai pembina utama. Susunan kepengurusan yang solid ini menjadi motor penggerak organisasi dalam kepengurusan MES UK periode kepemimpinan kedua ini.

Kepengurusan MES UK dibawah kepemimpinan Rahmatina Kasri telah menorehkan prestasi dalam aktualisasi visi dan misi organisasi ini di Inggris raya. Beberapa agenda kegiatan positif dari kepengurusan sebelumnya dilanjutkan dan dikembangkan lebih jauh oleh kepengurusan MES UK baru ini. Salah satu agenda kegiatan yang dilanjutkan di periode baru ini adalah kegiatan diskusi yang menjadi bagian dari tupoksi Divisi Kajian. Beberapa kegiatan diskusi yang berhasil dilaksanakan mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat seperti diskusi dengan tema ”Islamic Economics and Community Development in Indonesia” yang diselenggarakan pada hari Minggu, 17 April 2011 di forum KSG Southampton, diskusi dengan tema ”Perkembangan Ekonomi, Keuangan dan Perbankan Syariah di Indonesia” yang diselenggarakan pada hari Sabtu, 17 september 2011 yang bertempat di KBRI London dengan menghadirkan pembicara Ali Sakti dari Direktorat Perbankan Syariah di Indonesia, serta diskusi mengenai ”Giving Behaviors in Indonesia and Potential Marketing Implications for Islamic Charities: An Explaranatory Study” yang diselenggarakan pada 17-18 Juli 2012 pada Durham-Kyoto Workshop in Islamic Finance di Durham University, Durham. Bahkan, kegiatan diskusi ilmiah yang diprakarsai Divisi Kajian MES UK sukses menyelenggarakan seminar Internasional bertemakan ”Memperkuat Peran Keuangan Syariah dalam Pembangunan Perekonomian Indonesia: Peluang dan Tantangan Global” yang diselenggarakan pada hari Jum’at, tanggal 4 Mei 2012, bertempat di Ruang Grutacala KBRI London. Seminar internasional ini menghadirkan pembicara seperti M. Syafi’i dari Komite Ekonomi Nasional Indonesia, Ismet Inono dari Bank Indonesia London, dan Dian Masyita dari Divisi Kajian MES UK.

Keberhasilan kepengurusan MES UK di bawah Rahmatina Kasri dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang bersifat diskusi ini juga menandai babak baru perkembangan organisasi MES UK, di mana agenda kegiatan organisasi mendapat dukungan positif dari berbagai macam perkumpulan dan organisasi. Hal ini merupakan buah kinerja kepengurusan MES di bawah Rahmatina Kasri yang dapat menjalin dan membina hubungan baik dengan pihak-pihak terkait yang mampu memberi nilai tambah terhadap organisasi dan mampu memberikan dukungan terhadap agenda kegiatan MES UK, baik itu dari masyarakat dan komunitas Indonesia di berbagai kota di Inggris, institusi dan lembaga perwakilan pemerintah dan pihak swasta di Inggris raya, maupun dengan masyarakat, komunitas, organisasi, dan lembaga lokal Inggris.

Selain meneruskan agenda kegiatan positif berupa diskusi ilmiah dan seminar, serta pembentukan hubungan kelembagaan yang baik dengan perkumpulan, organisasi, dan institusi Indonesia maupun non-Indonesia di berbagai kota di Inggris raya, keberhasilan lain yang dicapai MES UK pada periode kepemimpinan ini adalah dalam hal konsolidasi internal organisasi. Selain pembentukan kepengurusan organisasi, proses kaderisasi dan perekrutan calon pengurus dan simpatisan untuk perkembangan organisasi yang dilaksanakan lebih intensif telah berbuah manis. Jumlah anggota MES UK pun meningkat, mencapai 43 orang dari hanya beberapa individual di awal kepengurusan. Hal ini dapat dicapai melalui usaha yang nyata berupa kunjungan resmi maupun tidak resmi pengurus MES UK periode ini ke berbagai acara yang diselenggarakan perkumpulan, organisasi, dan institusi lain di berbagai kota di Inggris raya, maupun dengan penggunaan media lainnya, seperti melalui internet. Patut digarisbawahi, penggunaan media internet dalam penyampaian informasi maupun dalam rangka melaksanakan fungsi komunikasi menjadi kunci di sini. Keberadaan website resmi MES UK yang diprakarsai dan dikoordinasi oleh Divisi Teknologi dan Informasi MES UK berperan penting dalam pencapaian program kerja dan visi misi organisasi. Secara garis besar, komitmen tinggi kepengurusan Rahmatina Kasri terhadap kaderisasi menandakan kesadaran tinggi dari kepengurusan tersebut terhadap keberlangsungan syiar mengenai ekonomi syariah pada umumnya dan keberlangsungan organisasi MES UK pada masa datang.

Setelah melewati tiga tahun masa bakti, kepengurusan MES UK di bawah Rahmatina Kasri telah sampai pada akhir masa kepengurusan. Untuk melanjutkan visi dan misi organisasi serta memastikan bahwa proses regenerasi ditubuh MES UK berjalan, pengurus MES UK melaksanakan pemilihan Ketua Umum yang baru untuk melanjutkan dan menjalankan fungsi organisatoris MES UK. Diharapkan, kehadiran Ketua Umum baru juga dapat memberikan ide dan semangat baru dalam bentuk program kerja yang tepat sasaran dan tepat guna sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman. Calon ketua MES UK dijaring dari usulan-usulan lokaliti dan anggota MES UK. Hasil dari penjaringan ini melahirkan tiga nama yang kemudian berhak dipilih oleh para anggota MES UK. Setelah melalui proses pemilihan secara langsung, di mana tiap anggota MES UK memiliki hak suara yang sama untuk memilih pemimpin MES UK, panitia pemilihan Ketua Umum MES UK menetapkan saudara Ilham Reza Ferdian, seorang konsultan pada perusahaan konsultan manajemen IFAAS di Birmingham, sebagai Ketua Umum MES UK periode ketiga. Ia memperoleh 45.16% suara dari total pemilih yang berhak untuk memilih. Proses pemilihan ini, selain melahirkan sosok pemimpin baru bagi MES UK, juga menjadi simbol dimulainya babak baru dari eksistensi MES UK dalam kaitannya untuk membumikan ekonomi syariah kepada masyarakat Indonesia di Inggris raya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan MES UK sebagai perwakilan organisasi pusatnya yang berkedudukan di Jakarta akan selalu diasosiasikan sebagai sebuah simbol pencapaian politik organisasi dalam kaitannya dengan eksistensi dan pengaruhnya ditengah masyarakat. Dengan keterbatasan sumber daya dan minat masyarakat, fase awal terbentuknya perwakilan MES di Inggris raya ini tidak dapat terpisahkan dari stigma yang berkembang yang mengaitkan terbentuknya MES UK dengan sebuah ambisi besar Islamisasi masyarakat. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai perencanaan pengembangan organisasi dan ditambah dengan keterbatasan sumber daya yang tersedia di awal terbentuknya organisasi ini. Namun, menimbang pencapaian yang telah diraih organisasi sampai dengan pergantian tongkat kepemimpinan untuk kedua kali, keberhasilan ini tidak dapat dipandang sebelah mata dalam konteks eksistensi MES UK sebagai organisasi yang mampu merealisasikan dan memvisualisasikan mimpi sebagai agen perubahan.

Pada hakekatnya, essensi dari ekonomi syariah adalah untuk meningkatkan kesadaran Muslim akan pentingnya nilai-nilai dan norma Islam dalam proses berfikir dan pengambilan keputusan individual Muslim sebagai konsekuensi dari sistem kepercayaannya. Namun, dalam implementasinya, esensi dari ekonomi syariah yang berlandaskan asas-asas universal Islam, seperti konsep umat, konsep kebebasan yang bertanggung jawab dan konsep keadilan yang berlandaskan atas kepercayaan akan adanya satu sistem yang berjalan dan meliputi semua hal yang ada di dunia, mendapatkan apresiasi lebih di mata dunia, terlebih dengan munculnya krisis multidimensi yang bermula dari krisis keuangan yang berpusat di jantung ekonomi dunia di Wallstreet, Amerika Serikat. Memang, praktek-praktek ekonomi modern yang berlandaskan nilai-nilai kebebasan individual yang bertumpu pada institusi property rights dapat memberikan ruang bagi individu untuk mengaktualisasikan diri. Namun, absennya institusi norma dan nilai dalam skema pengambilan keputusan berakibat pada tumbuh berkembangnya perilaku anti-sosial, yang menyebabkan pada akumulasi sumber daya pada sebagian kecil masyarakat, eksploitasi sumber daya yang berakibat negatif pada lingkungan, seperti polusi, dan perilaku-perilaku monopoli dan anti-sosial lainnya yang mencederai keberlangsungan sistem sosial masyarakat (Caporaso dan Levine, 1993).

Dampak negatif dari norma perilaku yang terus berkembang di masyarakat memberikan legitimasi akan pentingnya sebuah pergerakan reformasi moral yang menyasar akar permasalahan yang

tumbuh di masyarakat dan hal ini memperkuat posisi tawar ekonomi syariah dalam evolusi sistem sosial masyarakat. Dalam bidang keuangan, institusi keuangan syariah sudah memulai pergerakan ini di tengah masyarakat dengan merevolusi akar permasalahan yang menyangkut keberadaan nilai dan norma di masyarakat dengan menitikberatkan kepada aktifitas di sektor riil dan mengedepankan asas keadilan dengan menghilangkan praktek bunga di masyarakat yang berpotensi menimbulkan eksploitasi terhadap individu maupun perampasan hak orang lainnya secara tidak adil. Namun, cita-cita yang dicanangkan ini tidak dapat diraih institusi keuangan syariah secara mandiri. Sebagai bagian dari entitas yang lebih besar, institusi keuangan syariah membutuhkan dukungan dari masyarakat, institusi lain dan pemangku kepentingan lainnya.

Choudhuri dan Malik (1992) menyebutkan bahwa sebuah sistem terdiri dari kumpulan aktor-aktor, baik individu maupun institusi, yang masing-masing memainkan peran nya dalam kerangka sistem itu sendiri serta berinteraksi satu sama lain dengan mengacu pada sebuah etika yang menjadi landasan kerja sistem tersebut. Dalam framework ini, proses reformasi moral yang dicanangkan dalam gerakan ekonomi syariah menuntut adanya dukungan dari pemangku kepentingan, baik di sektor publik maupun di sektor privat. Keberadaan MES UK adalah untuk ikut andil dalam memfasilitasi perubahan tatananan baru yang bersifat inklusif dan konstruktif, di mana peran aktif masyarakat dapat ditransformasi dalam pergerakan dan kontribusi yang terstruktur dan masif.

Respon institutional yang digalakkan MES UK dalam menghadapi problematika sosial masyarakat di era modern ini memang tetap mengutamakan pesan yang dibawa Qur’an dan Sunnah sebagai landasan ideologis dan yuridis. Tetapi, institutionalisasi dari pergerakan ini dapat diartikan sebagai transformasi dari pendekatan yang digunakan umat dalam penyampaikan pesan Islam yang terbungkus dalam ekonomi syariah itu sendiri. Ziauddin Sardar (2006) dalam artikel berjudul ”What Do We Mean By Islamic Futures?” menekankan pentingnya konsolidasi dalam pergerakan ekonomi syariah, dimana visi dan misi ekonomi syariah dapat dibingkai dalam kacamata pendekatan baru yang sesuai dengan konteks sosioekonomi modern yang berlaku sebagai bagian utuh dari sistem yang saling terkoneksi dan saling mendukung. Kesesuaian model pendekatan institutional yang dianut oleh MES UK sebagai wadah perjuangan ekonomi syariah dengan sistem sosial yang berlaku akan berperan penting dalam memastikan keberhasilan reformasi moral di masyarakat melalui pergerakan ekonomi syariah yang bertujuan meletakkan sistem etik Islam dalam masyarakat.

Keberadaan dan prestasi yang ditorehkan MES UK sejak berdirinya organisasi ini lebih dari sepuluh tahun silam menunjukkkan bahwa eksistensi organisasi perwakilan ini melebihi dari label simbol kesuksesan dan eksistensi organisasi intinya semata. Peran yang dimainkan MES UK sebagai pusat diseminasi konsep, promosi ide, dan aktualisasi prinsip-prinsip dasar Islam dalam ekonomi dalam suatu kerangka sistemis semakin menekankan arti pentingnya perkembangan MES UK di tengah perjuangan membumikan ekonomi Islam. Keberadaan MES UK sebagai wadah bagi agen perubahan Islam untuk mendorong transformasi yang sifatnya menyentuh hingga tataran yang paling dasar di masyarakat adalah merupakan bagian integral dari satu ide yang pada hakekatnya berusaha mevisualisasikan suatu peradaban Islam modern dalam konsep tawhid as a complementarity system (Asutay, 2007) Oleh karena itu, MES UK membutuhkan dukungan ide, tenaga, maupun sumberdaya dari para pemangku kepentingan agar reformasi moral yang digalakkan pergerakan ekonomi syariah dapat berjalan dengan lancar dan berkelanjutan.

Referensi

Asutay, M. (2007a). A political economy approach to Islamic economics: systemic understanding for an alternative economic system. Kyoto Journal of Islamic Area Studies 1 (2), 3–18.

Caporaso, J., A., and Levine, D., P. (1993). Theories of Political Economy. Cambridge: Cambridge University Press.

Choudhury, M., A., and Malik, U., A. (1992). The Foundations of Islamic Political Economy. London: Macmillan.

Sardar, Z. (2006). What Do We Mean By Islamic Futures? In Abu-Rabi, I., M. (eds.), “The Blackwell Companion to Contemporary Islamic Thought. Oxford: Blackwell’s Publishing.

Roadshow MES dan ACT di United Kingdom 21 March

ACTNews, DERBY – Masyarakat Ekonomi Syariah United Kingdom (MES-UK) bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Pengajian Derbyshire, Leicestershire, dan Nottinghamshire (PeDLN), UK, menggelar Roadshow “Mengenal Keuangan Syariah Lebih Dekat”, di kota Derby, Sabtu (21/3).

Acara roadshow di kota Derby ini merupakan yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya diselenggarakan di kota Southampton dan Bristol. Roadshow yang menghadirkan pemateri, Ilham Reza Ferdian, Ketua Pengurus MES-UK, ini berlangsung mulai pukul 1 hingga 4pm GMT dan dihadiri sekitar 50 orang WNI yang tinggal di kota Derby, Nottingham, Loughborough, UK.

Sebagian dari mereka adalah mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di beberapa universitas sekitar kawasan tersebut dan juga WNI yang bekerja serta sudah mendapatkan permanent residence di UK. Para peserta tampak antusias mengikuti jalannya diskusi ini. “Program ini pasti bermanfaat, sebab nanti kami pasti kembali ke tanah air. Perekonomian Islam bisa membuat perubahan dan mempengaruhi lingkungan sekitar, dan ini juga usaha mengembangkan kembali perekonomian Islam sehingga semua lebih sejahtera, maju, dan adil,” ungkap Peni Indrayudha, ketua PeDLN, calon doktor Medicinal Chemistry,  School of Pharmacy, University of Nottingham.

Peni juga mengapresiasi dukungan yang diberikan ACT kepada MES-UK. Ia bahkan menyatakan ketertarikannya untuk menjadi relawan ACT. Menurutnya ACT selalu terdepan saat ada bencana dan masalah sosial kemanusiaan, “banyak publikasi dan foto-fotonya. Saya pun kadang suka mengikuti beritanya. Kerjsama ini sangat sinergis dalam rangka menciptakan Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” tutur Peni.

Hal serupa diungkapkan oleh Masdar Helmi, Dosen Teknik Sipil di Universitas Lampung, yang saat ini tengah menjalani tahap akhir studinya di jurusan Civil Engineering, School of Engineering, University of Nottingham. Menurutnya, “ACT mengingatkan kita, sebagai muslim, harus peduli dan segera melakukan aksi untuk menolong saudara-saudara yang  membutuhkan pertolongan. Tak ada motivasi lain selain bertindak sebagai muslim, sesuai dengan tuntunan dalam Al Qur’an dan yang dicontohkan oleh Rasulullah.”

Selain diskusi mengenai keuangan syariah, setelah acara tersebut juga dilakukan penjualan charity products yang sebagian hasilnya akan disalurkan untuk membantu saudara-saudara di Papua melalui program ACT yang bertajuk “Developing Papua: Long ACTionfor the Unforgotten Ethnic in Eastern Indonesia”.

Beberapa Ibu yang hadir di pengajian tersebut terlihat antusias dalam sesi ini. Apalagi setelah mereka tahu dananya akan disalurkan kepada saudara-saudara di Papua. “Saya senang dengan program ACT yang memberikan bantuan secara langsung kepada saudara-saudara di Papua. Semoga masyarakat Indonesia di daerah timur bisa lebih terbantukan melalui program ini,” ujar Tri Yulianti, WNI asli Surakarta yang tinggal di Nottingham sejak 2013. (rez)

– See more at: http://www.act.id/id/whats-happening/view/1382/roadshow-mes-dan-act-di-united-kingdom#sthash.wDSDe4si.dpuf

~ Masyarakat Ekonomi Syariah UK~

MES-ACT Keliling UK Sosialisasi Keuangan Syariah dan Kemanusiaan

ACTNews, BIRMINGHAM – Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) United Kingdom hadir di Kota Birmingham. Kehadiran ACT-MES dalam rangka roadshow: “Mengenal Keuangan Syariah Lebih Dekat”, yang terselenggara Sabtu (11/4/2015).

“Ini roadshow yang keempat kalinya, sebelumnya diselenggarakan juga di beberapa kota United Kingdom lainnya,” ujar Irfan Subakti, mahasiswa  PhD di bidang Computer Science, University of Birmingham.

“Sosialisasi mulai dari yang dasar hingga lanjutan terus diperlukan untuk memperkuat kontribusi ekonomi ummat Islam terhadap dunia,” ujar Irfan yang juga dosen di Departemen Teknik Informatika, Institut Teknologi Surabaya, Jawa Timur.

Roadshow mayoritas dihadiri mahasiswa Indonesia yang mengambil program master dan PhD di beberapa universitas di Kota Birmingham, Coventry, Warwick, Wolverhmapton, di daerah West Midlands, UK. Sebagian mereka membawa keluarganya berhijrah untuk bersama menimba ilmu dan pengalaman di tanah Britania Raya. Selain itu, Roadshow ini pun dihadiri oleh beberapa WNI yang sudah menjadi permanent residence di UK.

Roadshow ini diharapkan tidak menjadi sekedar dialektika, tapi juga dapat menggugah semangat penerapan ekonomi syariah dalam kehidupan nyata. Sebagaimana juga disetujui oleh Sri Suhartini, Ketua Pengajian Asy-Syifa Birmingham yang saat ini juga sedang menjalani postdoctoral research-nya di bidang Bio Energy di Birmingham City University.

Di roadshow ini, MES-UK juga memperkenalkan ACT sebagai mitra organisasinya. Ternyata, tak sedikit yang telah mengenalnya. Menurut Abdullah Arifianto, Ketua Pengajian Forum Jumat, Birmingham.

“Kita bisa lihat dimana ada musibah, kita selalu melihat ada tim ACT disana. Jadi tidak bisa diragukan lagi, ACT termasuk yang terbaik dalam hal ini,” ujarnya usai menyimak ACT mempresentasikan lembaga dan seputar dunia kemanusian Indonesia dan dunia. (irf/ajm)

~ see more: http://www.act.id/id/whats-happening/view/1448/mes-act-keliling-uk-sosialisasi-keuangan-syariah-dan-kemanusiaan

~ Masyarakat Ekonomi Syariah UK~

MES-UK Welcome All Expertise Background to Join Involve in Islamic Economy

oleh: Arif Abdullah A

Birmingham 13/05/2015, as further internal discussion in MES-UK Executive Commitee, one of main focus is how to strengthen practicality of Islamic Economy in sector real, so there will be mutual benefit between the current islamic economy platform with the prospective economy market. This sector real experts need more familiar with current Islamic Economy platform and can give positive feedback to future development of Islamic Economy.

This idea is so linear with MES Headquater vision, as mention by the President of MES  “Islamic Economy, which now currently the most prominent is the Islamic financial services such as banking and other financial industries. But do not leave the real sector, I imagine there are tourism sharia, Islamic micro enterprises and so on that. That  which moved the economy.” 05/05/2015  http://www.inspeksianews.com/berita/muliaman-hadad-ciptakan-ekonomi-syariah-bergairah

So, please welcome to our future sector real expertise to Islamic Economy, it is our future goal to reconnecting the real sector with current Islamic Economy paltform. (ao)

image courtesy: West Midlands, UK relative contribution chart between finance & manufacturing

Mawaris

Ada sebuah hal yang kerap membayangi fikiran saya, dimana kita sering berbicara mengenai masyarakat, keadilan dan etika, menurut aristotle nation yang paling kecil adalah keluarga, perumpaan lain tentang perserikatan adalah tubuh, “kamu sekalian bersaudara, laksana satu tubuh”

Mawaris ialah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari cara-cara pembagian harta waris. Mawaris disebut juga faraidh karena mempelajari bagian-bagian penerimaan yang sudah ditentukan sehingga ahli waris tidak boleh mengambil harta waris melebihi ketentuan. Adapun hukum mempelajarinya ialah fardhu kifayah.

Silaturahim MES-UK dengan Ketua OJK di KBRI London, UK

Selasa, 16 Juni 2015, di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di London – United Kingdom, diadakan acara ramah tamah dengan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang juga Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Bapak Muliaman D. Hadad. Acara diawali dengan pemaparan beliau mengenai kelembagaan OJK, program kerja yang sedang dan akan dilaksanakan, serta target dan pencapaian OJK. Kemudian acara dilanjutkan dengan tanya jawab dengan audiens yang berasal dari berbagai macam elemen masyarakat seperti perwakilan dari KBRI, cabang beberapa bank nasional di London, BKPM, profesional dari Indonesia yang bekerja di London dan mahasiswa yang sedang studi di London dan sekitarnya. Acara tanya jawab yang berlangsung hangat dan informal dimoderatori langsung oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris, Republik Irlandia dan IMO, Bapak Hamzah Thayeb.

Di dalam salah satu pemaparannya, Bapak Muliaman Haddad menjelaskan mengenai posisi Indonesia yang kini diperhitungkan dalam dunia internasional. Indonesia dianggap memiliki potensi yang besar karena dapat menyandingkan Islam serta demokrasi dan juga pertumbuhan Islamic Finance yang mulai bergeliat walaupun masih berkisar 5% dari total dari seluruh produk keuangan syariah dan konvesional. Bahkan, Korea Selatan dan Jepang pun kini sedang belajar dari Indonesia untuk mempersiapkan diri menerbitkan Sukuk.

Yang menjadi tantangan perkembangan keuangan syariah di Indonesia adalah institusi keuangan syariah yang belum kuat dan jumlahnya masih terbatas, awareness masyarakat yang masih kurang terhadap keuangan syariah dan sumber daya manusia yang masih terbatas. Mengenai sumber daya manusia, saat ini sudah sekitar 57 universitas di seluruh Indonesia menawarkan gelar dalam bidang Islamic Finance yang diharapkan akan menjadi penyokong.

Lebih lanjut Bapak Muliaman Haddad memaparkan bahwa kini Indonesia sudah mempunyai Masterplan Arsitektur Keuangan Syariah Indonesia (MAKSI) yang disusun salah satu konsultan keuangan Islam asal Inggris. Bappenas kemudian mensinergikan MAKSI tersebut kedalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2015-2019. Ada 3 sektor yang menjadi konsentrasi dalam pengembangan keuangan syariah di Indonesia yaitu bidang pasar modal syariah, perbankan syariah dan lembaga keuangan syariah non-bank. Untuk pasar modal syariah, sudah ada road map yang disiapkan sebagai implementasi dari MAKSI di bidang pasar modal. Mengenai perbankan syariah, pada tanggal 14 Juni 2015 Presiden Joko Widodo meresmikan gerakan Aku Cinta Keuangan Syariah (ACKS) yang digagas oleh OJK untuk meningkatkan pemahaman, penggunaan produk dan layanan keuangan syariah di masyarakat. Sedangkan implementasi arsitektur mengenai lembaga keuangan syariah non-bank sampai saat ini masih dalam proses.

Acara diakhiri dengan acara makan malam dan ramah tamah dengan seluruh audiens. Di acara ini, Ilham Reza Ferdian selaku Ketua MES perwakilan UK didampingi oleh Gisca Nurannisa sebagai salah satu pengurus MES – UK berkesempatan untuk berdiskusi mengenai laporan kegiatan MES – UK, perkembangan organisasi MES di UK dan mengenai animo masyarakat Indonesia di UK mengenai investasi syariah kepada Bapak Muliaman Hadad. Salah satu program kerja andalan MES – UK yaitu roadshow “Mengenal Keuangan Syariah Lebih Dekat” di berbagai kota di UK. Alhamdulillah roadshow yang juga diselenggarakan dengan dukungan dari Aksi Cepat Tanggap (ACT) Foundation tersebut dapat memberikan penjelasan mengenai konsep dan praktik keuangan syariah bagi WNI di UK. (gnn)

Di Wolfson College – University of Oxford, United Kingdom, MES-UK dan ACT Roadshow Keuangan Syariah dan Kemanusiaan

Masyarakat Ekonomi Syariah United Kingdom (MES-UK) bersama Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Pengajian Oxfordshire and Swindon, UK mengadakan Roadshow “Mengenal Keuangan Syariah Lebih Dekat”, di kampus University of Oxford, 18 Oktober 2015. Acara ini berlangsung mulai pukul 2 hingga 3pm GMT dan dihadiri sekitar 20 orang WNI yang terdiri dari mahasiswa dan pekerja yang tinggal di Oxfordshire and Swindon.

Acara yang diisi dengan pemaparan materi dan diskusi ini berlangsung atraktif. Sebagaimana yang disampaikan oleh Ibu Yani Sampurno yang saat ini bekerja di BBC Oxford: “Acara yang sangat berguna dengan cara pembahasan yang menarik. Secara pribadi banyak hal yang saya pelajari dari roadshow Ekonomi Syariah ini. Sebagai sesama umat Islam, saya merasa perlu membantu memasyarakatkan Ekonomi Syariah ini sehingga Ekonomi Syariah bisa maju dan mampu bersaing dengan Ekonomi konvensional yang ada sekarang.”

Hal senada juga diungkap oleh Saudara Rahmat Mulyawan, Mahasiswa S3 di University of Oxford yang juga sedang dimanahkan sebagai ketua PPI Oxford. Beliau mengungkap, “Subhanallah. Acaranya sangat bermanfaat. Selain memberi informasi yang praktis, roadshow ini juga memberi pencerahan dan motivasi untuk menggunakan produk keuangan syariah agar kehidupan kita menjadi lebih barokah. Semoga lebih banyak lagi teman-teman yang merasakan manfaat dari roadshow Islamic finance ini.”

Selain diskusi tentang keuangan syariah, di roadshow ini juga dikenalkan mengenai isu-isu kemanusiaan terkini yang banyak ditangani oleh Yayasan Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang merupakan partner MES-UK. Beberapa peserta pun mengapresiasi kinerja ACT dan menunjukkan ketertarikan mereka untuk berkontribusi mendukung program-program ACT. Salah satunya ditunjukkan dengan antusiasme peserta Ibu-Ibu saat membeli charity product yang sebagian keuntungannya disalurkan ke ACT.

Catatan untuk perang antar geng sekarang ini:

Sungguh jika memang ada hak orang lain disana, dan mereka lalai, bersaksi palsu, ataupun membuat dagelan kambing hitam, maka Murka Allah Kepada Orang yg Bersumpah Palsu untuk Mendapatkan Harta Seorang Muslim.

Shahih Bukhari 6183: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Al A’masy dari Abu Wa`il dari Abdullah radliallahu ‘anhu menuturkan; Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa bersumpah mengada-ada di depan hakim, dengan tujuan untuk memperoleh harta seorang muslim, maka ia berjumpa dengan Allah dan Allah murka kepadanya, ” kemudian Allah menurunkan ayat yang membenarkan hal ini dengan ayat; ‘Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah mereka dengan harga yang sedikit’ (QS. Ali-Imran 77).

Maka Al Asy’ats bin Qais masuk dan bertanya; ‘Apa yang diceritakan Abu Abdurrahman kepada kalian? ‘ Mereka menjawab; ‘begini dan begini’. Maka Al Asy’ats bin Qais berkata; ‘ayat itu diturunkan kepada kami, yang ketika itu saya mempunyai sumur di pekarangan keponakanku, maka kudatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dan beliau bersabda: “Sekarang engkau harus menyertakan bukti kepemiikanmu atau dia melakukan sumpahnya!” Aku menjawab; ‘kalau begitu, dia pasti akan bersumpah Ya Rasulullah! ‘ Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa bersumpah dengan sumpah dusta (diada-adakan), ia melakukan kejahatan dengan sumpahnya itu dengan tujuan untuk merampas harta seorang muslim, ia akan menjumpai Allah sedang Allah dalam keadaan murka kepadanya.”

Bom paris dan kepercayaan

Bom itu menyentak, bagi mereka yang hidup dengan identitas, berjilbab, berjanggut, berkopiah, turban, gamis, sarung dan jati diri, bagi mereka yang hidup dengan simbol yang tidak lagi bersahabat.

Seperti hal nya peperangan; bendera, simbol adalah hal yang pertama direbut, dikoyak dan dirobohkan, karena dengan hal tersebut kepercayaan diri akan tergoyah.  

Hidup di dunia 2.0 bukan tanpa tantangan, disaat opini media menjadi preseden baik dan buruk, dimana opini sosial menjadi juri, menggiring melalui media adalah hal terefektif memberitakan kebenaran ataupun menciptakan fitnah satu sama lain.

Kenapa prancis? kenapa bukan turki disaat ada 1,6 juta lebih pengungsi syiria disana, disaat berkumpulnya para pemimpin dunia dalam KTT G20? yah sekali lagi kita butuh simbol untuk diruntuhkan.

Dan seperti satu sandiwara, hidup berjalan kedepan, tercatat ada satu kepercayaan yang hilang ataupun dihilangkan.